SHAMIR'S WEB BLOG

September 30, 2008

Golongan Penerima Zakat

Filed under: Agama — samiranshamir @ 6:59 am

Delapan Golongan Yang Berhak Menerima Zakat

http://www.pkpu.or.id/artikel.php?id=1&no=3

 

PKPU Online Ketika Allah SWT mewajibkan kepada umat Islam yang kaya (Aghnia) untuk membayar zakat, Allah juga menentukan sasaran alokasi yang berhak menerima zakat. Masalah ini tidak dibiarkan manusia berijtihad atau berkreasi untuk menentukan pihak-pihak yang berhak. Karena masalah harta adalah masalah yang sangat sensitif dan dapat menimbulkan ajang pertumpahaan darah jika tidak ditentukan langsung secara jelas oleh Allah SWT. Sebagaimana juga terjadi pada hukum waris.

Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah Ayat 60 : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurus-pengurus (amil) zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Ayat ini jelas sekali bahwa Allah SWT telah menetapkan pihak-pihak yang berhak menerima zakat, yaitu yang biasa disebut dengan 8 Ashnaf mustahikin zakat, mereka adalah: pertama, Fakir kedua, Miskin ketiga, Amilin keempat, Muallaf kelima, Fir-Riqab keenam, Gharimin ketujuh, Fii Sabilillah kedelapan, Ibnu sabil

Bagi yang meneliti ayat 60 dari surat At Taubah diatas ada sedikit perbedaan pengungkapan pada empat kelompok pertama dengan empat kelompok kedua. Empat kelompok pertama menggunakan kata (huruf) li atau huruf lam yang berarti untuk (menunjukkan peruntukkan), sedangkan empat kelompok kedua menggunakan huruf fi yang makna asalnya menunjukkan keterangan tempat.

Diantara hikmah penyebutan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Fakhrur Razi: “Untuk empat sasaran pertama zakat diberikan kepada mereka dan mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan kehendaknya. Adapun dalam memerdekakan budak zakat diberikan untuk menghilangkan perbudakan, sehingga tidak diberikan kepada mereka untuk dipakai sekehendak hatinya, akan tetapi digunakan untuk menghilangkan sifat perbudakan. Demikian juga bagi mereka yang berhutang, zakat diserahkan untuk membayar hutang, bagi yang sedang berperang zakat digunakan untuk sarana dan prasarana peperangan, begitu juga Ibnu Sabil”.

Kesimpulannya, bagi empat sasaran pertama, zakat diserahkan kepada mereka dan mereka memiliki hak penuh untuk menggunakannya sesuai dengan kebutuhan mereka. Sedangkan bagi empat sasaran kedua zakat tidak diserahkan karena ada sesuatu kebutuhan atau keadaan yang menyebabkan mereka berhak menerima zakat.

Dalam pembahasan ini PKPU akan menguraikan satu persatu 8 Ashnaf mustahikin zakat sesuai dengan urutan Al Qur’an tetapi akan mengakhirkan pembahasan amil zakat menjadi satu pembahasan khusus mengingat luasnya permasalahan amil zakat. Pada akhirnya keberhasilan pengelolaan zakat tergantung pada 3 hal yang sangat penting dan saling berhubungan, yaitu: Muzakki, Mustahik dan Amil zakat.

1. FAKIR dan 2. MISKIN

Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan fakir dan miskin. Ada yang menganggap bahwa fakir dan miskin adalah sama seperti pendapat Abu Yusuf murid Abu hanifah dan Ibnu Qosim pengikut Malik. Tetapi ada yang berpendapat bahwa fakir dan miskin berbeda sebagaimana pendapat jumhur ulama. Pada hakekatnya kedua kelompok ini adalah mustahik yang sama-sama tidak mampu, cuma tingkat ketidak mampuannya berbeda.

Jumhur Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan fakir dan miskin menjadi dua pendapat :

1.       Pendapat Madzhab Hanafi mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang sampai senishab atau memiliki satu nishab atau lebih tetapi berupa perabot rumah tangga dan keperluan sehari-hari. Adapun miskin yaitu mereka yang tidak memiliki apa-apa.

2.       Madzhab Malik Syafi’i dan Ahmad berpendapat sebaliknya. Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta atau penghasilan yang layak untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Misalnya orang yang kebutuhannya 1 juta sebulan tetapi yang ada hanya 4 ratus ribu atau kurang. Sedangkan miskin ialah mereka yang mempunyai harta atau penghasilan layak dalam memenuhi keperluan diri dan keluarganya tetapi tidak sepenuhnya tercukupi. Seperti kebutuhan yang diperlukan satu juta tetapi yang ada hanya 7 sampai 8 ratus ribu.

Perbedaan dalam mendefinisikan fakir dan miskin tidaklah mempengaruhi makna dan hakekat sebenarnya, bahwa kedua kelompok itu adalah kelompok yang paling mendapat prioritas harta zakat. Semakin tinggi tingkat kekurangan dan kebutuhannya maka semakin mendapat prioritas dalam pengalokasian harta zakat.

Barangkali yang terpenting disini adalah menentukan batas seseorang disebut kaya, sehingga tidak berhak mendapat harta zakat.

Ulama menentukan sbb:

1.       Menurut pendapat Madzhab Malik, Syafi’i dan Ahmad bahwa yang disebut kaya adalah orang yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, jika dia membutuhkan maka di termasuk yang berhak memperoleh zakat walaupun hartanya banyak. Nilai kecukupan ini sangat dipengaruhi oleh tanggungan dan besarnya pengeluaran. Imam Khattabi mengatakan bahwa Imam Malik dan Syafi’i berkata: ” Tak ada batasan yang jelas tentang siapa yang disebut kaya. Seseorang dianggap kaya atau miskin diukur dari lapang atau sempitnya hidup. Bila ia berkecupan, maka haram baginya mendapat sedekah”.

2.       Menurut Madzhab Hanafi orang kaya yang tidak boleh menerima zakat ada dua macam. Pertama, orang yang mempunyai kekayaan satu nishab dalam semua bentuk zakat, misalnya: Orang yang memiliki 5 ekor unta, atau 40 ekor kambing, atau 30 ekor sapi, atau 652,8 kg makanan pokok atau 85 gram emas. Sebagian pendapat yang lain kekayaan yang diukur adalah ukuran nishab uang dari segala macam harta apa saja. Kedua, orang kaya yaitu orang yang memiliki harta surplus dari kebutuhan hidupnya yang nilainya mencapai 200 dirham (sekarang 85 gram emas), tetapi tidak terkena wajib zakat karena harta tersebut tidak produktif misalnya perabot rumah tangga, rumah, kendaraan dll.

3.       Pendapat sebagian ulama lain diantaranya, jika memiliki harta 50 dirham atau senilai harga emas. Ada juga berpendapat jika memiliki harta 40 dirham (satu uqiyah)

4.       Fakir dan Miskin yang Mampu Berusaha
Para ulama seperti pengikut Madzhab Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa fakir dan miskin yang mampu berusaha tidak berhak mendapat zakat. Hal ini sesuai hadits riwayat jama’ah artinya: “Sedekah tidak halal bagi orang orang kaya dan bagi orang yang yang berbadan sehat dan kuat”. Tetapi para ulama membolehkan memberikan zakat kepada mahasiswa (pencari ilmu), karena mereka sedang melaksanakan fardhu kifayah dan ilmunya akan bermanfaat bagi ummat.

3.MUALLAF

Muallaf adalah kelompok yang ingin dijinakkan hatinya supaya cenderung kepada Islam atau mengokohkan keislamannya atau dapat menghindari dari kejahatannya atau kelompok yang diharapkan manfaatnya dalam menolong umat Islam terhadap musuhnya.

Muallaf terbagi menjadi beberapa golongan, baik muslim atau kafir:

1.       Golongan yang diharapkan keislamannya atau keislaman keluarganya

2.       Golongan yang dikhawatirkan kelakuan jahatnya

3.       Golongan yang baru masuk Islam

4.       Pemimpin dan tokoh masyarakat dari umat Islam, tetapi imannya masih lemah.

5.       Kaum muslimin yang bertempat tinggal di benteng-benteng dan daerah perbatasan dengan musuh

6.       Kaum muslimin yang membutuhkannya untuk mengurus zakat orang yang tidak mau mengeluarkannya, kecuali dengan paksaan (debt collector)

4.FIR RIQAAB

Riqaab adalah jama’ dari raqabah yaitu budak lelaki tetapi yang dimaksud adalah budak lelaki dan perempuan. Fir Riqaab artinya mengeluarkan zakat untuk memerdekakan budak sehingga terbebas dari dunia perbudakan. Cara membebaskan budak ada dua cara:

Pertama, menolong budak mukatab, yaitu budak yang telah ada perjanjian dengan tuannya, jika dia mampu mendapatkan sejumlah harta, maka bebaslah dia. Kedua, Seorang atau sekelompok orang dengan zakatnya membeli seorang budak untuk dimerdekakan.

5. GHARIMIN

Ghariim yaitu orang yang mempunyai hutang. Madzhab Abu Hanifah mengatakan, ghariim adalah orang yang mempunyai hutang dan dia tidak mempunyai harta yang lebih dari hutangnya.

Ghariim terbagi menjadi dua bagian:

1.       ghariim untuk kebutuhan diri sendiri, misalnya ghariim berhutang untuk nafkah sehari-hari, menikahkan anak, mengobati penyakit, dll.

2.       Ghariim untuk kemaslahatan orang lain, seperti ghariim karena mendamaikan kerabat atau pihak yang berselisih dll. Mereka adalah kelompok dermawan dan yang menjaga harga diri dan kehormatannya.

Ghariim untuk kepentingan sendiri harus memenuhi beberapa syarat :

1.       Ada upaya untuk menutupi hutang

2.       Hutang digunakan untuk ketaatan bukan kemaksiatan

3.       Hutang sudah jatuh tempo dan belum dapat membayarnya.

4.       Hutang tersebut sesuatu yang dapat ditahan seperti hutang anak kepada orang tua dan sebaliknya.

6. FII SABILILLAH

Disebutkan dalam buku An Nihayah karangan Ibnu Katsir bahwa makna Fii Sabilillah terbagi dua, yaitu:

1.       Arti asal kalimat ini menurut bahasa adalah setiap perbuatan ikhlas dipergunakan untuk taqarrub kepada Allah SWT segala amal shaleh, baik bersifat pribadi maupun sosial.

2.       Arti yang biasa difahami pada kata ini apabila bersifaat mutlak adalah jihad, sehingga karena seringnya dipergunakan untuk itu, seolah-olah artinya khusus untuk jihad

Dari dua pengertian ini maka para ulama berbeda pendapat tentang makna Fii Sabilillah. Jumhur ulama seperti madzhab Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i dan Ahmad sepakat bahwa fii sabilillah khusus untuk jihad. Abu Yusuf murid Abu Hanifah berpendapat, sabilillah adalah mujahidin yang terputus bekalnya. Ibnu Arabi mengutip pendapat Imam Malik yang mengatakan: “Aku tidak mengetahui adanya perbedaan ulama, bahwa yang dimaksud dengan fii sabilillah yang dimaksud adalah mujahidin yang berperang. Menurut madzhab Syafi’i yang dimaksud sabilillah adalah mujahidin yang tidak dapat tunjangan tetap dari pemerintah. Madzhab Imam Hambali sama dengan Madzhab Syafi’i, yaaitu mereka adalah mujahidin yang berperang yang tidak memiliki gaaji tetap atau memiliki tetapi tidak mencukupi.

Selain jumhur ulama ada ulama yang meluaskan arti sabilillah baik ulama salaf maupun ulama modern. Mereka berpendapat bahwa sabilillah adalah semua bentuk kebajikan.

Pendapat ini tidak kuat karena jika sabilillah diartikan pada semua bentuk kebajikan berarti ashnaf zakat semuanya tercakup pada kata sabilillah dan tidak harus ada pengkhususan pada yang delapan kelompok atau golongan tadi, dan pendapat seperti ini berbahaya karena akan mengakibatkan semua orang dapat mengklaim dirinya masuk golongan fi sabilillah.

Pendapat yang moderat adalah pendapat Yusuf Qardhawi, beliau sependapat dengan pendapat jumhur ulama, tetapi memperluas makna jihad bukan hanya pada peperangan atau jihad fisik saja, tetapi termasuk semua bentuk jihad fii sabilillah, seperti dakwah untuk menegakkan Islam, membebaskan manusia dari kemusyrikan dan misionarisme, dll.

7.IBNU SABIL

Ibnu sabil adalah musafir yang sedang dalam perjalanan. Berkata Imam Ath Thabari : “Ibnu Sabil mempunyai hak dari zakat, walaupun dia kaya apabila terputus bekalnya”. Imam Syafi’i memasukkan pada kelompok Ibnu Sabil bagi orang yang hendak berpergian yang tidak mempunyai bekal, tetapi dengan syarat buka untuk maksiat. Ulama lain mensyaratkan bahwa niat berpergiannya untuk kemaslahatan ummat sehingga dapat dirasakan oleh umat atau jamaah Islam.

Syarat Ibnu Sabil yang berhak memperoleh zakat:

1.       Orang tersebut sedang membutuhkan

2.       Bukan perjalanan maksiat

3.       Tidak ada orang yang memberi pinjaman.

8. AMILIN DAN MANAJEMEN ZAKAT

AMILIN ZAKAT

Amilin zakat adalah orang-orang yang terlibat dalam kepanitiaan zakat (yang mengkhususkan untuk bekerja sebagai amilin, bukan sampingan), seperti petugas-petugas yang mengambil zakat dari mustakihin, pencatat, petugas yang menyalurkan zakat dan lain-lain.

Amilin zakat menempati peranan yang sangat strategis dalam pengelolaan zakat, karena di tangan merekalah zakat diambil dari muzaki dan didistribusikan kepada mustahikin. Amilin zakat harus benar-benar memiliki kredibilitas yang tinggi sehingga dipercaya oleh masyarakat pembayar dan penerima zakat. Amilin zakat juga harus proaktif mengambil zakat dari muzaki sesuai bunyi teks Al Qur’an.

Kalau ditinjau dari praktek pengelolaan zakat di masa Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin maka diketahui bahwa amilin zakat adalah petugas resmi yang ditunjuk oleh pemerintahan Islam. Untuk lebih mengarah kepada profesionalisme maka pengelolaan zakat akan lebih baik jika ditangani oleh satu kementrian yang khusus mengurus masalah itu. Misalnya menteri urusan zakat, wakaf dan sedekah. Jika pemerintahan Islam belum ada maka dapat saja lembaga amil zakat dikelola oleh ormas Islam yang memang sudah terbukti beramal untuk kepentingan Islam dan umatnya.

Profesionalisme kerja badan atau lembaga amil zakat menuntut adanya manajerial yang baik dalam pengelolaan zakat. Maka konsekwensi dari itu menghendaki harus adanya struktural dalam pengelolaan zakat. Oleh karenanya amilin zakat dalam Islam harus memenuhi syarat dan kriteria yang ditentukan oleh Islam.

A.1 Syarat-syarat Amilin Zakat

1.       Muslim

2.       Mukallaf

3.       Jujur dan Amanah

4.       Memahami Hukum Zakat

5.       Mampu dan Bertanggung Jawab

6.       Lelaki

B.2 Pembagian Zakat

Salah satu kewajibanamilin zakat adalah mereka harus tahu posisi pembagiaan zakat. Terdapat perbedaan pendapat dikalangan umat terkait tentang pembagian zakat, yaitu:

1.       Madzhab Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat harus diberikan kepada semua golongan dengan jumlah yang sama jika semuanya ada. Imam Nawawi berkata: “Tidak diperbolehkan membiarkan salah satu golongan yang ada, sehingga apabila ia melakukannya ia harus bertanggung jawab terhadap bagiannya”.

2.       Madzhab hanafi dan Malik tidak mewajibkan pembagian zakat pada semua golongan. Abu Ubaid berkata: “Apabila engkau memberikan zakat pada satu sasaran zakat, maka hal itu cukup bagimu”.

Yusuf Qardhawi menyimpulkan pembagian zakat dalam bukunya Fiqih Zakat sbb:

1.       Zakat harus dibagikan kepada semua mustahik, apabila harta zakat itu banyak dan semua sasaran itu ada.

2.       Ketika diperkirakan semua mustahik ada, maka tidak wajib mempersamakan pembagian pada mereka

3.       Diperbolehkan memberikan semua zakat, tertuju pada sebagian sasaran tertentu saja

4.       Hendaknya golongan fakir dan miskin mendapat prioritas dalam pembagian

5.       Mengambil pendapat Imam Syafi’i dalam mengambil batas tertinggi yaitu 1/8 dari harta zakat.

6.       Apabila harta zakat sedikit, maka dalam keadaan demikian itu diberikan pada satu sasaran saja.

MANAJEMEN ZAKAT

Dalam pengelolaan zakat diperlukan manajemen yang baik dan efisien agar tujuan zakat dapat tercapai dengan baik, yaitu dapat mengentaskan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan hidup dikalangan umat Islam. Berkata Imam Nawawi: “Hendaklah pemimpin dan pelaksana serta orang yang diserahi tugas membagikan zakat, melakukan pencatatan para mustahik serta menjauhi jumlah mereka dan besarnya kebutuhan mereka, sehingga seluruh zakat itu diselesaikan setelah diketahui jumlah zakat itu, agar segera diselesaikan hak mereka dan untuk menjaga terjadinyaa kerusakan barang yang adaa padanya”.

Hal-hal yang harus ada dalam manajemen zakat, yaitu:

Struktur Badan atau Lembaga Amil Zakat

Struktur Badan atau Lembaga Amil Zakat harus lengkap dan efisien sehingga tugas pengelolaan zakat dapat berjalan dengan baik.

Contoh struktur :

§                           Dewan Pengawas Syari’ah

§                           Ketua

§                           Sekretaris

§                           Bendahara

§                           Bagian Penerima Zakat

§                           Bagian Penyalur Zakat

§                           Dan lain-lain

Nama Lembaga dan Papan Nama

Sebagaimana telah disebutkan dimuka, pengelolaan zakat merupakan kewajiban yang mengikat maka sebaiknya dilakukan oleh pemerintahan Islam, namun jika belum ada maka sebaiknya lembaga zakat ditangani yayasan khusus atau ormas yang sudah dikenal umat Islam.

Keadministrasian

Salah satu keharusan yang mesti ada dalam manajemen adalah keadministrasian. Maka lembaga yang mengelola zakat harus dilengkapi dengan sistem administrasi yang baik dan efesien.

Contoh kelengkapan administrasi

1.       Daftar Surat-surat

2.       Surat Tugas

3.       Surat Keterangan

4.       Surat Undangan

5.       Surat Permohonan

6.       Surat Seruan

7.       Dan lain-lain

Format-format

1.       Kwitansi

2.       Daftar Hadir

3.       Daftar Inventaris

4.       Daftar Mustahikin

5.       Daftar Muzakin

6.       Daftar Surat masuk dan jawabannya

7.       Buku Kas pemasukan dan pengeluaran

8.       Daftar Gaji Pegawai

9.       Daftar Laporan bulanan dan tahunan

10.   Dan lain-lain

Sarana

Lembaga Zakat juga harus dilengkapi dengan sarana yang memadai sesuai kebutuhan agar pengelolaan masalah zakat dapat berjalan dengan efektif dan efisien.(cyp/pkpu)

Sumber :

1.       Pelatihan Zakat di PKPU oleh Dr. Surahman

2.       Dr. Salim Segaff Al Jufri – Tanya Jawab Zakat

3.       KH. Dr. Didin Hafidhuddin, MSc – Tanya Jawab Zakat Republika

4.       Fiqih Zakat, Yusuf Qardhawi – Litera Antar Nusa

5.       Fiqih Sunnah Jilid 3-4, Sayyid Sabiq

6.       Institut Manajemen Zakat

 

About these ads

4 Comments »

  1. Zakat Fitrah yang masing banyak ketidaktepatan dalam mendistribusikannya. Misal salah satu penalokasiannya adalah untuk membantu pembangunan masjid.

    Comment by samiranshamir — May 8, 2009 @ 7:57 am

    • Jadi zakat yg dibayarkan untuk membangun masjid/mushalla/pesantren dll tidak sah?
      Mohon penjelasan.
      wassalam

      Comment by dono utoro — May 11, 2011 @ 1:48 am

  2. [...] Di Subang Meningkat Dari tahun Lalu,Ditetapkan Rp 20 000,-Kadar Zakat Fitrah 2011 — Blog Mohd IsaGolongan Penerima ZakatGolongan Penerima Zakatvar base_url_sociable = [...]

    Pingback by Jangan Lupa Zakat Fitrah - Catatan Perjalanan Spiritual, Pengembangan Diri, Ide, informasi, Hobi, Ilmu Dan Pikiran .To Reach Highest Human Potentiality. - FajarNurzaman — August 4, 2012 @ 7:21 pm

  3. Bolehkah zakatpenghasilan dan zakat harta saya berikan pada adik istri saya yang PIATU, sedangkan mertua laki-laki saya tidak ada penghasilan tetap..???

    Comment by DOPABIB — August 17, 2012 @ 6:15 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: