SHAMIR'S WEB BLOG

January 11, 2009

8. Syahrur dan Teori Limit

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 4:34 pm

Syahrur dan Teori Limit

http://islamlib.com/id/index.php?id=677&page=article

06/09/2004

Kita telah banyak yang mengetahui bahwa ilmu adalah jalan untuk menuji kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Telah dijelaskan melalui hadis nabi, bahwa untuk dapat mencapai kebahagiaan di dunia, kita perlu ilmu, untuk kebahagiaan di akhirat, kita juga butuh ilmu, demikian pula untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat kita pun perlu ilmu. Islam berkembang, karena ilmu. Banyak ilmuwan Islam yang telah banyak berjasa dalam membesarkan Islam.

Salah satu Ilmuwan Islam yang saat ini menggebrag dunia Islam karena keberaniannya dalam memaparkan pandangannya adalah Dr. Muhammad Syahrur, seorang tokoh Islam liberal dari Syiria dengan teori limitnya (nadzariyyat al-hudûd). Teori ini Menjadi kontribusi baru dalam kajian fikih kontemporer. Menurut Wael B. Hallaq, teori limit Syahrur telah mengatasi kebuntuan epistemologi yang menimpa karya-karya pemikir sebelumnya (Wael B. Hallaq: 1997). Melalui karyanya yang sangat kontroversial, al-Kitâb wal Qur’ân: Qirâ’ah Mu`âshirah, Syahrur menegaskan bahwa teori limit merupakan salah satu pendekatan dalam berijtihad, yang digunakan dalam mengkaji ayat-ayat muhkamât (ayat-ayat yang bersisi pesan hukum) dalam Alquran. Terma limit (hudûd) yang digunakan Syahrur mengacu pada pengertian “batas-batas ketentuan Allah yang tidak boleh dilanggar, tapi di dalamnya terdapat wilayah ijtihad yang bersifat dinamis, fleksibel, dan elastis.”

Paling tidak, teori limit memberikan empat kontribusi signifikan dalam pengayaan bidang fikih.

Pertama, dengan teori limit, Syahrur telah berhasil melakukan pergeseran paradigma (paradigm shift) yang sangat fundamental di bidang fikih. Selama ini, pengertian hudûd dipahami para ahli fikih secara rigid sebagai ayat-ayat dan hadis-hadis yang berisi sanksi hukum (al-`uqûbât) yang tidak boleh ditambah atau dikurangi dari ketentuannya yang termaktub, seperti sanksi potong tangan bagi pencuri, cambuk 100 kali bagi pelaku zina belum berkeluarga, dan lain sebagainya. Berbeda dengan itu, teori limit (nadzariyyat al-hudûd) yang ditawarkan Syahrur cenderung bersifat dinamis-kontekstual, dan tidak hanya menyangkut masalah sanksi hukum (al-`uqûbât). Teori limit Syahrur juga menyangkut aturan-aturan hukum lainnya, seperti soal libâsul mar’ah (pakaian perempuan), ta`addud al-zawj (poligami), pembagian warisan, soal riba, dan lain sebagainya.

Kedua, teori limit Syahrur menawarkan ketentuan batas minimum (al-hadd al-adnâ) dan batas maksimum (al-hadd al-a`lâ) dalam menjalankan hukum-hukum Allah. Artinya, hukum-hukum Allah diposisikan bersifat elastis, sepanjang tetap berada di antara batas minimum dan maksimum yang telah ditentukan. Wilayah ijitihad manusia, menurut Syahrur berada di antara batas minimum dan maksimum itu tadi. Elastisitas dan fleksibilitas hukum Allah tadi dapat digambarkan seperti posisi pemain bola yang bebas bermain bola, asalkan tetap berada pada garis-garis lapangan yang telah ada. Pendek kata, selagi seorang muslim masih berada dalam wilayah hudûd-u-lLâh (ketentuan Allah antara batas minimum dan maksimum tadi), maka dia tidak dapat dianggap keluar dari hukum Allah. Contohnya: ketentuan potong tangan bagi pencuri (Q.S. al-Mâ’idah: 38).

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Menurut Syahrur, potong tangan merupakan sanksi maksimum (al-hadd al-a`lâ) bagi seorang pencuri. Batas minimumnya adalah dimaafkan (Q.S. al-Mâ’idah: 34). Dari sini Syahrur berkesimpulan, seorang hakim dapat melakukan ijtihad dengan memperhatikan kondisi objektif si pencuri. Sang hakim tidak perlu serta merta harus memberi sanksi potong tangan dengan dalih menegakkan syariat, tapi dapat berijtihad di antara batasan maksimum dan minimum tadi, misalnya dengan sanksi penjara. Kalau kasus yang dihadapi adalah pejabat yang korup, sanksi dipecat dari jabatannya juga masih berada dalam dua batasan tadi. Syahrur beralasan, esensi sebuah sanksi hukum adalah membuat jera (kapok) si pelanggar hukum. Oleh sebab itu, negara atau pemerintahan yang tidak atau belum menerapkan sanksi potong tangan, rajam, qisas, dan beberapa sanksi hukum yang tertera di dalam Alquran maupun hadis, tidak bisa diklaim sebagai negara atau pemerintahan yang kafir sebagaimana tuduhan kalangan fundamentalis.

Kita coba melihat kasus pakaian wanita, (Q.S al-Nur: 31)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dalam kasus pakaian perempuan (libâs al-mar’ah) ini Syahrur berpendapat bahwa batas minimum pakaian perempuan adalah satr al-juyûb atau menutup bagian dada (payudara), kemaluan, dan tidak bertelanjang bulat. Batas maksimumnya adalah menutup sekujur anggota tubuh, kecuali dua telapak tangan dan wajah. Dengan pendekatan ini, perempuan yang tidak memakai jilbab pada umumnya (termasuk model “jilbab gaul” yang kini sedang ngetren) sesungguhnya telah memenuhi ketentuan Allah, sebab masih berada pada wilayah di antara batas minimum dan maksimum tadi. Sebaliknya, perempuan yang menutup sekujur tubuhnya (termasuk wajah, dengan cadar misalnya) dianggap telah keluar dari hudûd-u-lLâh (batasan-batasan Allah), karena melebihi batas maksimum yang ditentukan Alquran. Artinya, perempuan yang mengenakan cadar dan menutup sekujur tubuhnya –dengan pendekatan ini– malah sudah “tidak islami”.

Ketiga, dengan teori limitnya, Syahrur telah melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap metodologi ijtihad hukum, utamanya terhadap ayat-ayat hudûd yang selama ini diklaim sebagai ayat-ayat muhkamât yang bersifat pasti dan hanya mengandung penafsiran tunggal. Bagi Syahrur, ayat-ayat muhkamât juga dapat dipahami secara dinamis dan memiliki alternatif penafsiran, sebab Alquran diturunkan untuk merespon persoalan manusia dan berlaku sepanjang masa. Semua ayat Alquran tidak saja dapat dipahami, bahkan bagi Syahrur dapat dipahami secara pluralistik, sebab makna suatu ayat itu dapat berkembang, tidak harus sesuai dengan makna (pengertian) ketika ayat itu turun. Walhasil, penafsiran suatu ayat sesungguhnya bersifat relatif dan nisbi, sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan kata lain, melalui teori limit, Syahrur ingin melakukan pembacaan ayat-ayat muhkamât secara produktif dan prospektif (qirâ’ah muntijah), bukan pembacaan repetitif dan restrospektif (qirâ’ah mutakarrirah).

Keempat, dengan teori limit, Syahrur ingin membuktikan bahwa ajaran Islam benar-benar merupakan ajaran yang relevan untuk tiap ruang dan waktu. Syahrur berasumsi, kelebihan risalah Islam adalah bahwa di dalamnya terkandung dua aspek gerak, yaitu gerak konstan (istiqâmah) serta gerak dinamis dan lentur (hanîfiiyah). Nah, sifat kelenturan Islam ini berada dalam bingkai teori limit yang oleh Syahrur dipahami sebagai the bounds or restrictions that God has placed on mans freedom of action (batasan yang telah ditempatkan Tuhan pada wilayah kebebasan manusia). Kerangka analisis teori limit yang berbasis dua karakter utama ajaran Islam ini (aspek yang konstan dan yang lentur) akan membuat Islam tetap survive sepanjang zaman. Dua hal yang beroposisi secara biner itu kemudian melahirkan gerak dialektik (al-harakah al-jadaliyah) dalam pengetahuan dan ilmu-ilmu sosial. Dari situlah diharapkan lahir paradigma baru dalam pembuatan legislasi hukum Islam (tasyrî’), sehingga memungkinkan terciptanya dialektika dan perkembangan sistem hukum Islam secara terus-menerus. WalLâh a’lam!

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

Pada khutbah kedua ini, kami mengajak agar kita  henti-hentinya mencari ilmu. Baik untuk kepentingan kebahagiaan di dunia maupun untuk kepentingan kebahagiaan di akhirat. Kita coba maksimalkan seluruh anggota tubuh kita, mata, telinga, kepala (otak), tangan, kaki, hati, dan yang lain, kita berdayakan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki kelak.

Bismillaahirrahmaanirraahii, alhamdu lillaahi rabbil alamin, hamdassyaakirin, hamdannaaimin, handayyuwaffi niamahu wayukaai madziidah.

Ya Allah, Jadikan mataku ini sebagai mata yang tidak membutakan mata hati kami, jadikan metaku ini sebagai mata yang selalu sanggup melihat ayat-ayatmu

Jadikan lisan ini menjadi lisan yang tepelihara jangan biarkan mulut ini sebagai sumber fitnah, yang akan menimbulkan perpecahan di antara kami. Jadikan mulut ini hanya berucap kata-kata yang engkau ridha

Jadikan kening kami yang selalu nikmat bersujud, jangan biarkan kening kami ini menjadi sia sia tanpa pernah bersujud kepadaMu ya Allah.

Jadikan tangan kami tangan yang selalu senang menolong, yang kuat yang dapat menolak kebatilan dan yang menolak kemurkaan

Jadikan kaki kami ini senang berjalan menuju tempat-tempat yang engkau sucikan dan engkau senangi, jangan biarkan kaki ini melangkah ke tempat-tempat yang penuh maksiat.

Wahai yang maha mendengar, yang maha tahu segala isi hati, jadikan hati ini hati yang tidak gentar mengahadapai apapun, berikan hati kami menjadi rindu akan pertemuan denganmu, rindu untuk bertemu denga rosul2mu.

Jadikan otak kami ini sebagai otak yang selalu sanggup memikirkan dan menggali ilmu yang engkau bentangkan di jagad ini, jangan jadikan otak kami ini tumpul, hanya menerima saja, apalagi hanya memikirkan hal-hal yang kotor dan penuh maksiat.

Wahai Yang maha dekat, segala yang ada di bumi ini adalah milikmu, segala yang ada di bumi ini ada dalam genggamanmu. Kedahsyatan alam adalah milikmu, fenomena alam adalah kehendakmu, bencana alam adalah hakmu.

Jadikan hidup dan mati kami hanya kepadamu ya Allah. Ampuni kami adai kami selama ini selalu melupakanMu, Ampuni dosa yang terang terangan kami perbuat, juga yang sembunyi sembunyi kami lakukan, juga ketika kami selalu berbutuk sangka kepadamu.

Bimbing kami agar setiap detak nafas kami menyempurnakan ihtiar di jalan yang engkau ridhai. Kami adalah lemah, kami adalah bodoh, kami tidak dapat memperoleh percikan ilmumu kecuali atas pertolongan dan kehendakmu. Jadikan kami senang mencari ilmuMu, karena ilmu adalah pelita hati, karena ilmu yang akan membimbing kami ke arah jalan yang engakau ridha

7. MANUSIA ITU LEMAH BERARTIKAH?

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 4:30 pm

MANUSIA ITU LEMAH

BERARTIKAH?

Kalau kita renungkan, negara kita akhir-akhir ini seperti tidak pernah ada kenyamanan sama sekali. Bencana alam begitu mudahnya muncul di bumi Indonesia ini. Taruhlah kita berangkat dari sunami di Aceh yang meluluh lantakkan serambi mekah itu. Ratusan ribu manusia seperti sampah yang tak berdaya, begitu mudah tertelan ombak. Semua tumbuhan dan bangunan rata bahkan seperti padang tanah, tak ada barang tersisa. Semua seperti samudra lumpur. Bahkan ada subuah kabupaten yang hanya tinggal 15% penduduknya. Gempa bumi jogya yang hanya beberapa menit saja telah menghilangkan ribuan nyawa manusia. Banjir lumpur yang telah 3 tahunan tidak kunjung berhenti, sekitar 5 kecamatan seolah hilang, yang ada hanyalah lautan lumpur. Berbagai upaya dilakukan, berbagai temuan teknologi diteparkan, namun hingga kini tidak ada tanda-tanda akan berhenti, bahkan bebarapa ahli mengatakan bahwa banjir lumpur setidaknya akan berlangsung sekitar 10 tahun ke depan. Banjir dimana-mana, kebakaran hutan tak kunjung berhenti, Begitu banyaknya bencana di tanah air ini, hingga kita seolah tidak dapat menyebutnya satu demi satu. Kita tinggal di dataran rendah, banjir tiada putus. Didataran tinggi, tanah longsong menghadang. Alam seolah sedang menunjukkan bahwa betapa kuatnya dia, betapa saktinya dia, betapa berkuasanya dia. Lalu ada apa dengan manusia? Bukankah manusia pandai, berilmu dan berteknologi, serba bisa, kuasa akan alam ini? Ternyata terbukti bahwa manusia sangat lemah, bahkan terkesan teramat sangat lemah dibandingkan kekuatan alam ini.

Yang pasti setiap manusia terlahir ke bumi sebenarnya tanpa tahu siapa dirinya, dan siapa pula bumi yang dihuninya, apalagi jagat raya yang melingkupinya maha luas.  Jagat raya ini berisi sekitar 300 miliar galaksi. Galaksi adalah kumpulan bintang dan benda langit yang setiap galaksai jumlahnya ratusan milyard bintang. Salah satu dari galaksi ini adalah Galaksi Bima Sakti, yang terdiri atas sekitar 250 miliar bintang. Matahari kita hanyalah salah satu dari 250 milyard bintang yang ada di galaksai bima sakti ini. Matahari dikategorikan sebagai bintang kecil jenis G.(lalu bagaimana bintang yang lebih besar?) Matahari dipercayai terbentuk pada 4,6 miliar tahun lalu dari serpihan material ledakan bintang generasi pertama seperti yang diyakini oleh ilmuwan, bahwasanya alam semesta ini terbentuk oleh ledakan big bang sekitar 14.000 juta tahun lalu. Jika kita bandingkan dengan butiran pasir di seluruh pantai di bumi masih lebih banyak bintang di jagat raya, dan Matahari kita hanyalah salah satu butiran pasir ini. Bumi tempat tinggal kita tidaklah lebih besar dari sebutir pasir tersebut. Perbandingan diameter matahari dengan bumi adalah 9 : 1000.  Jadi apabila matahari saja digambarkan sebutir pasir, lalu bumi seberapa. Seperseratus dari besarnya butir pasir.

Lalu bagiamana dengan manusia, makhluk kecil penghuni bumi ini, seolah ia bukanlah apa-apa di dalam jagat raya yang mahaluas ini.

Dari segi ukurannya, manusia bak sebutir debu di padang pasir nan luas, sesuatu yang tak berarti dalam alam semesta tak bertepi. Dilihat dari kekuatannya, manusia pun makhluk yang teramat lemah, jaauuh lebih lemah dari kekuatan alam ini. Dari virus tak kasat mata yang mampu menjadikannya sakit tak berdaya; hingga hujan, gunung dan gempa bumi yang dapat melenyapkannya dari muka bumi. Begitulah, kehidupan manusia seolah tak berarti jika dilihat dari ukuran dan kekuatannya, dibandingkan dengan ukuran alam semesta dan kedahsyatan peristiwa alam.

Namun, benarkah hidup manusia tanpa arti? Jika makna hidup memang tiada, mengapa manusia perlu ada? Jika mata yang melihat pemandangan, telinga yang mendengar suara, lidah yang mengecap rasa, dan kulit yang meraba benda ini tidak memiliki makna apa pun, lalu untuk apa semua ini ada? Mengapa manusia mesti hidup di muka bumi jikalau pada akhirnya semua mereka kan pasti sirna, terhempaskan oleh penyakit mematikan, usia senja, kecelakaan, gempa bumi, letusan gunung, serta dahsyatnya kekuatan alam lainnya yang menerpa mereka? Mengapa manusia mesti hadir di dunia, mengapa mereka mesti hidup, menderita, tertawa, bahagia, dan akhirnya harus mati…??? Apakah semua ini ada artinya ???

Nampaknya, semua ini nyaris tanpa arti jika kita pahami sebatas pada ukuran dan kekuatan manusia, sebab banyak makhluk atau benda di alam ini yang jauh lebih besar dan jauh lebih dahsyat dari manusia. Namun sesuatu benda telah memiliki arti karena keberadaannya, sebab untuk apa menanyakan makna atau arti sesuatu yang tidak pernah ada? Ketika arti keberadaan sesuatu telah kita pahami, maka ukuran, kekuatan, kedahsyatan dan segala ciri yang lain pun akan tampak bermakna di hadapan kita. Begitulah, keberadaan manusia memunculkan makna keberadaan serta kehidupan manusia itu sendiri. Sebagaimana keberadaan alam semesta beserta segala isi dan kedahsyatannya yang pastilah mendorong kita juga bertanya akan arti keberadaannya.

Yang pasti, kesempurnaan dan kehebatan seluruh makhluk hidup dan tak hidup di alam ini mengatakan kepada akal dan hati nurani manusia akan satu hal: semua diciptakan dengan tujuan yang pasti dan benar. Dan tujuan itu adalah agar manusia yang berakal dan bernurani ini mampu menyibak misteri alam, termasuk dirinya sendiri. Menguak kesempurnaan, keajaiban, kehebatan, kekuatan, dan kedahsyatan fenomena alam hingga terpampang di pelupuk matanya suatu kebenaran yang pasti, yakni bahwa semua ini ada karena diciptakan dengan makna dan tujuan yang pasti; hingga tersingkaplah kabut kebodohan dan kejumudan yang selama ini menutup mata hatinya, sehingga ia dengan jelas mampu menatap keberadaan singgasana sang Pencipta. Dialah Allah, Penguasa dan Pemilik Kekuatan di balik keajaiban dan kedahsyatan fenomena alam ini, yang semuanya diciptakan-Nya agar manusia mampu mengenal keberadaan dan sifat-sifat-Nya. Lebih dari itu, alam ini dicipta agar manusia senantiasa mengingat akan keagungan Pencipta-Nya dan kelemahan dirinya; agar menjadi sarana yang menjadikannya hamba yang bertaqwa. QS. Al Mu’minuun, 23:84-87

84. Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

85. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

86. Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?”

87. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

Ya Allah, Jadikan mataku ini sebagai mata yang tidak membutakan mata hati kami, jadikan metaku ini sebagai mata yang selalu sanggup melihat ayat-ayatmu

Jadikan lisan ini menjadi lisan yang tepelihara jangan biarkan mulut ini sebagai sumber fitnah, yang akan menimbulkan perpecahan di antara kami. Jadikan mulut ini hanya berucap kata-kata yang engkau ridha

Jadikan kening kami yang selalu nikmat bersujud, jangan biarkan kening kami ini menjadi sia sia tanpa pernah bersujud kepadaMu ya Allah.

Jadikan tangan kami tangan yang selalu senang menolong, yang kuat yang dapat menolak kebatilan dan yang menolak kemurkaan

Jadikan kaki kami ini senang berjalan menuju tempat-tempat yang engkau sucikan dan engkau senangi, jangan biarkan kaki ini melangkah ke tempat-tempat yang penuh maksiat. Wahai yang maha mendengar, yang maha tahu segala isi hati, jadikan hati ini hati yang tidak gentar mengahadapai apapun, berikan hati kami menjadi rindu akan pertemuan denganmu, rindu untuk bertemu denga rosul2mu.

Wahai Yang maha dekat, segala yang ada di bumi ini adalah milikmu, segala yang ada di bumi ini ada dalam genggamanmu. Kedahsyatan alam adalah milikmu, fenomena alam adalah kehendakmu, bencana alam adalah hakmu.

Jadikan hidup dan mati kami hanya kepadamu ya Allah. Ampuni kami adai kami selama ini selalu melupakanMu, Ampuni dosa yang terang terangan kami perbuat, juga yang sembunyi sembunyi kami lakukan, juga ketika kami selalu berbutuk sangka kepadamu.

Bimbing kami agar setiap detak nafas kami menyempurnakan ihtiar di jalan yang engkau ridhai. Kami adalah lemah, kami adalah bodoh, kami tidak dapat memperoleh percikan ilmumu kecuali atas pertolongan dan kehendakmu. Jadikan kami senang mencari ilmuMu, karena ilmu adalah pelita hati, karena ilmu yang akan membimbing kami ke arah jalan yang engakau ridha

Khutbah Jumat 6

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 4:27 pm

MENCARI ALLAH

 

Dalam ceramahnya, Ibnu Atha’illah (seorang sufi) menyindir dan mengingatkan kepada kita bahwa: Pencarian kita pada Allah, menunjukkan bahwa Kita telah kehilangan Allah dari diri Kita. Selanjutnya Ia menerangkan bahwa: Orang yang mencari Allah, berarti Allah tidak hadir dalam kalbunya, Allah raib dari jiwanya, sehingga yang ada dan hadir di hatinya adalah selain Allah. Padahal Allah itu tidak pernah hilang. Allah juga tidak jauh, bahkan ketika hati kita jauh dari Allah. Allah itu Maha Dekat, bahkan sampai Kita tahu bahwa Allah lebih dekat dari segala yang ada, termasuk lebih dekat dibanding jiwa kita sendiri

Al-Baqoroh 186

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Dalam ayat di atas jelas bahwa Allah mengabulkan permohonan orang yang berdoa dengan catatan “apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku”. Ini mengingatkan pada kita bahwa kita perlu selalu bermohon kepada Allah dalam berbagai kepentingan. Meskipun sebagian ahli sufi mengatakan bahwa Allah maha mengetahui kepentingan hambanya, meskipun dia tidak memintanya Allah akan memberinya.

Hadirin rakhiima kumullah

Di lingkungan kita, banyak orang yang merasa belum menemukan Allah, termasuk belum menemukan Allah dalam kehadiran hatinya, Mungkin malah dalam diri kita sendiri, merasa belum merasakan kehadiran Allah. Lalu mencari Allah, sedangkan yang dicarinya itu sebenarnya lebih dekat dibanding angan-angannya kita tentang “dekat” itu sendiri. Untuk itu maka dzikir kepada Allah (dzikrullah) menjadi amat penting  agar kehadiran Allah bisa istiqamah dan dapat kita rasakan, sehingga kita tidak pernah merasa kehilangan Allah.

Selanjutnya Ibnu Atha’illah mengatakan “Sedangkan permintaan kita kepada selain Allah menunjukkan betapa Kita tidak punya rasa malu di hadapan Allah”

Padahal sudah jelas, bahwa rasa malu itu sebagaian dari iman. Kalau orang sudah tidak punya rasa malu di hadapan Allah, maka ia tidak akan punya malu di hadapan makhluk Allah lainnya.

 

Ada Kecenderungan pada diri manusia bahwa manusia banyak mengandalkan pertolongan kepada selain Allah, padahal Allah senantiasa memanggilnya agar si hamba dekat dan memohon kepada-Nya.

Syekh Ibnu Ajibah al-Hasani menyindir, bahwa rasa asyik dengan sesama manusia atau makhluk Allah, itu merupakan tanda-tanda kebangkrutan. Menghadap Allah itu berarti membelakangi makhluk Allah. Menghadap makhluk Allah berarti membelakangi Allah. Padahal dalam prinsip Tarekat Sufi ada satu kaidah, “Dan permintaanmu melalui selain Allah, menunjukkan betapa jauhnya dirimu dari Allah”

Orang seringkali mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi ketika iamasih merasa kekurangan, ia meminta melalui orang atau makhluk Allah. Padahal telah jelas bahwa Allah maha menyantuni hambanya yang mengorbankan dirinya dalam mencari keridlaanNya. Seperti yang tersurat dalam Q.S. Al-Bakarah 207:

 

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya

 

Ayat ini menjadi salah satu dasar mengapa sebagian ahli sufi mengatakan bahwa kita sebenarnya tidak harus meminta kepada Allah urusan rizki, karena Allah maha penyatun dan maha mengetahui kepentingan hambanya. Namun ada syaratnya bahwa mereka harus menghambakan dirinya kepada Allah dengan mengorbankan dirinya untuk mencari keridlaan Allah. Marilah kita tetap renungkan ayat Allah ini dan berupaya untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya, sehingga keridhaan Allah kita dapatkan, sehingga segala keinginan kita dimengerti dan diketahui Allah, yang akhirnya terwujudlah keinginan kita. Apalagi kondisi sekarang ini, kehidupan kita sebagai masyarakat kecil yang hidupnya banyak mengalami kedulitan, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Harga beras semakin, membubung hampir sulit terjangkau, harga minyak juga, bukan saja naik tetapi melipat, hingga dua kali lipat dari harga beberapa bulan sebelumnya. Minyak tanah yang merupakan kebutuhan primer bagi rakyat kecil, hampir menghilang dari pasar, harga bhan baker minyak (bensin) semakin melangit, sementara kondisi masyarakat kita telah banyak bergantung pada kendaraan bermotor jenis roda 2 maupun roda empat.

Kondisi ini akan semakin mempersulit hidup kita, kondisi ini dapat menciptakan komflik internal masyarakat, misal konfil antar tetangga, antar teman dan sahabat, apalagi bila masyarakat kaya banyak yang tertutup hatiyna, tentu cenderung akan menumbuhkan masyarakat yang temperamental, mudah sekali tersulut dan masuk ke dalam arena konflik karena persaingan untuk mendapatkan kebutuhan primer.

Sekali lagi, marilah kita berupaya selalu mendekatkan diri dan untuk mencari keridhaan Allah, demi terwujudnya kondisi terperhatikannya kesulitan kita oleh Allah yang pada gilirannya, Allah akan membantu kita untuk keluar dari segala kesulitan kita.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ  

 

 

Pada khutbah II ini saya mengajak untuk merenungkan kembali bahwa Allah dekat dengan kita, Allah mengabulkan doa kita, asalakan kita mendekat kepadaNya. Upayakan kita tidak mencari Allah karena Allah telah sangat dekat dengan kita, yakinlah bahwa Allah mengerti dan mengetahui apa yang ada dalam hati kita, Allah akan mengabulkan segala keinginan kita mekipun belum diucapkan, asalkan Dia ridha, maka marilah kita senantiasa mencari keridhaaNya. Marilah kita nyatakan keinginan kita keluarga besar SMK 1 Semarang, dalam sebuah doa:

 

 

Ya Allah, Engkau maha pengasih dan maha penyayang, kasihilah hambamu ini, Jadikan kami sebagai hambamu yang selalu mensyukuri nikamatmu, kami yakin kami bersyukur maka Engkau menambah pemberian nikmatMu. Arahkan kami agar kami senantiasa dekat denganMu, kami yakin kedekatan kami akan memunculkan keridhaanMu.

 

Ya Allah, Engkau maha pengampun, ampunilah kami perbaikilah hubungan antar personal kami lembutkan hati kami, lembutkan dan santunkan perkataan kami sebagai upaya untuk menghindari saling ketersinggungan diantara kami. Jadikan kami saling menghormati, saling menghargai, saling menyayangi, saling percaya dan saling dapat dipercaya. Jadikan kami sebagai hambaMu yang senantiasa mau bertanggungjawab atas segala tugas dan tanggung jawab kami.

 

Ya Allah, Engkau  paling tahu tentang kebijaksanaan, jadikan para pemimpin kami sebagai pemimpin yang bijaksana, yang cerdas, yang peka terhadap kondisi yang dipimpinnya, sehingga senantiasa berupaya memperbaiki kondisi manakala buruk, dan meningkatkan kualitas kondisi manakala dirasa telah baik. Jadikan jpara pemimpin kami sebagai pemimpin yang selalu mengutamakan pelayanan, kami sadar bahwa hidup adalah melayani dan bukan untuk minta dilayani. Karena itu perbaikilah dan tingkatkan pelayanan kami kepada yang seharusnya kami layani.

 

Ya Allah Jadikan tempat ini, masjid ini sebagai ladang kebaikan dan bukan sebagai lading konflik. Jadikan para tokoh masjid ini sebagai tokoh yang bijaksana, yang selalu berhati-hati dalam berbicara dan mengluarkan pernyataan, karena kekuranghati-hatian mereka, akan menimbulkan konflik, sehingga dapat menimbulkan terkoyaknya keharmonisan jama’ah masjid ini.

Ya Allah, yang  maha mengetahui kepantingan hambanya. Jadikan kami sebagai orang-orang yang  yang tahu akan tugasnya, pada job kami masing-masing

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng kehidupan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk

Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dosa para pemimpin kami, dosa para pendukung kami, dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.

Kabulkan permohonan kami ya Allah

Allahummaghfirli waliwaalidayya, warhamhuma kama rabbayana shahiira.

 

Khutbah Jumat 5

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 4:22 pm

MENGUBAH POLA PIKIR ORANG MISKIN

 

Perekonomian kita secara umum dikatakan terpuruk. Namun ternyata ini hanya dirasakan oleh masyarakat kecil, masyarakat miskin, atau menengah. Merekalah yang setiap hari kebingungan mencari pemenuhan kebutuhan pokok. Pangan, sandang dan papan. Meskipun banyak diantara mereka yang tidak menyadari bahwa mereka tergolong masyarakat miskin, mengingat hidup pas pasan atau kekurangan demikian telah membiasa. Tidak dipungkiri bahwa disekitar kita banyak yang hidupnya sangat jauh dari kita. Kalau hanya sekedar untuk makan mungkin mereka tidak begitu masalah, namun ketika harus membiayai sekolah anak-anaknya, ketika harus menanggung biaya pengobatan rumah sakit, mereka sangat sulit memenuhinya. Saat seperti demikian baru menyadarkan bahwa mereka termasuk katagori miskin. Pola pikir mereka yang demikian ini sangat perlu kita perhatikan dan kita upayakan untuk diperbaiki. Apabila masyarakat yang semikianini tidak kita pikirkan dan diupayakan untuk sadar dan kemudian berjuang untuk melepaskan diri dari kemiskinan, maka tidak mustakhil generasinya juga akan punya pola pikir yang sama, sehingga tidak akan pernah terjadi peningkatan kualitas ekonominya.

Keadaan masyarakat yang seperti ini terjadi pula di kampung kita, di lingkungan kita, di daerah kita. Siapa yang harus melakukan pembenahan ini? Tidak ada lain kecuali kita sendiri.

Salah satu cara yang dituntunkan dalam Islam adalah dengan mengoptimalkan sedekah, infaq, ataupun shadaqoh. Kata mengoptimalkan mempunyai makna menyadarkan keseluruhan umat agar senang, rutin, dan konsisten. Apabila sodaqoh ini distribusinya dikoordinir secara benar dan profesional, maka, bukan tidak mungkin kemiskinan segera dapat dientaskan dan diselesaikan.

Terdapat perilaku yang salah di masyarakat kita. Justru dengan kondisi kemiskinan yang sedemikian terasa, banyak oknum yang memanfaatkan kesempitan ini. Banyak sekali bank-bank keluarga, bank-bank pribadi (rentenir) yang menjadikan orang miskin sebagai nasabah. Namun sangat ironis, dalam kondisi kemiskinan yang menghimpit justru pinjaman dikenakan bunga yang cukup fantastik. 10% perbulan, sehingga kalau dihitung pertahun jatuhnya 120%. Bunga inilah yang dinamai riba. Orang miskin telah kekurangan dan dirundung kesulitan. Bunga seberapapun akan diiyakan karena sangat membutuhkan, misal demi terbayarnya pengobatan di rumah sakit, demi dapat memberi makan keluarga, demi diterimanya anak sebagai pegawai negeri, TNI.POLRI, atau karyawan perusahaan. Ketika pada saatnya harus melunasi dalam 3 bulan, dia belum bisa, bungan yang harus dibayarkan dijadikan pokok pinjaman lagi, hingga dalam 1 tahu, pokok pinjaman bisa dua kali lipat. Kondisi ini akan semakin menyengsarakan mereka. Apakah tidak lebih baik jika mereka bukan diberi pinjaman yang tidak berbunga atau bahkan diberi sedekah sebagai bentuk bantuan pada mereka?

Albaq0r0h 280

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Allah telah memberi peringatan pada kita dengan firmannya:

Albakoroh 278

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

 

Al Baqoroh 279

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

 

Ayat ini mengatakan bahwa jika kita tidak meniggalkan sisa ribanya, maka Allah dan Rasul akan memerangi kita, namun jika kita meniggalkannya dengan bertobat, hanya mendapatkan kita impas, mendapatkan yang pokoknya, artinya tidak mendapat pahala dari proses, tidak pula mendapat siksa. Sisa riba yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ketika orang yang memberi pinjaman ingat dengan peringatan Allah dan segera memutuskan untuk tidak meneruskan membebani bungan pinjaman pada yang berhutang.

 

Kita perlu renungkan kembali, meminjamkan uang dengan membungakan (riba), disamping menyengsarakan peminjam, sebenarnya tidak menambah kekayaan si empunya uang namun justru malah akan menyusutkan kekayaan mereka di sisi Allah. Sebaliknya pemberian zakat akan melipat gandakan pahala dari Allah, bahkan pahala yang berupa materi beberapa saat kemudian setelah proses zakat selesai.

 

Seperti difirmankan Allah dalam QS Arrum 30.

 

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

 

Al Hadid 18

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.

 

Allah telah menjamin tidak akan menjadi miskin orang yang bersedekah.

QS Amujaadillah 13

Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi tobat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

 

Pada khutbah kedua, saya mengajak untuk merenungkan kembali saudara-saudara kita tetangga kanan kiri kita yang nasibnya masih belum seberuntung kita, untuk tidak menambah beban mereka tetapi bagaimana kita ikut andil dalam mengatasi masalah ekonomi mereka, meskipun hanya berupa ide atau advis. Saya juga mengajak, mari kita tetap berupaya dan berdoa agar kita dihindarkan dari membebani orang lain dengan menerapkan bunga pada orang-orang yang kita bantu. Kita hindarkan riba kita galakkan zakat dan sedekah, Insya Allah kita akan termasuk orang-orang yang beruntung.

Untuk itu marilah kita berdoa agar apa yang kita lakukan tetap berada di jalan Allah, dijalan yang Allah Ridhai.

 

 

Ya Allah, Engkau maha pengasih dan maha penyayang, kasihilah hambamu ini, kasihilah keluarga besar Jadikan kami sebagai hambamu yang selalu mensyukuri nikamatmu, kami yakin kami bersyukur maka Engkau menambah pemberian nikmatMu. Arahkan kami agar kami senantiasa dekat denganMu, kami yakin kedekatan kami akan memunculkan keridhaanMu.

 

Ya Allah, Engkau  paling tahu tentang kebijaksanaan, karena engkau maha bijaksana. jadikan para pemimpin kami sebagai pemimpin yang bijaksana, yang cerdas, yang peka terhadap kondisi yang dipimpinnya, sehingga senantiasa berupaya memperbaiki kondisi manakala buruk, dan meningkatkan kualitas kondisi manakala dirasa telah baik. Jadikan kami sebagai hambamu yang selalu mengutamakan pelayanan, baik pelayanan kepada keluarga maupun kepada sesama, kami sadar bahwa hidup adalah melayani dan bukan untuk minta dilayani. Karena itu perbaikilah dan tingkatkan pelayanan kami kepada yang seharusnya kami layani.

Ya Allah, kami sadar uang seolah segalanya dalam hidup ini, dengan uang kami bisa berbuat banyak untuk kepentingan kemaslahatan umat, tingkatkan rizki kami, bimbinglah kami agar selalu menggunakan uang dan harta kami di jalanmu, hindarkan kami dari unsur riba dalam kehidupan kami.

 

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan

 

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk

 

Allahummaghfirli waliwaalidayya, warhamhuma kama rabbayana shahiira.

 

 

 

 

 

January 2, 2009

Khutbah Jumat 4

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 6:08 pm

MENCARI ALLAH

 

Dalam ceramahnya, Ibnu Atha’illah (seorang sufi) menyindir dan mengingatkan kepada kita bahwa: Pencarian kita pada Allah, menunjukkan bahwa Kita telah kehilangan Allah dari diri Kita. Selanjutnya Ia menerangkan bahwa: Orang yang mencari Allah, berarti Allah tidak hadir dalam kalbunya, Allah raib dari jiwanya, sehingga yang ada dan hadir di hatinya adalah selain Allah. Padahal Allah itu tidak pernah hilang. Allah juga tidak jauh, bahkan ketika hati kita jauh dari Allah. Allah itu Maha Dekat, bahkan sampai Kita tahu bahwa Allah lebih dekat dari segala yang ada, termasuk lebih dekat dibanding jiwa kita sendiri

Al-Baqoroh 186

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Dalam ayat di atas jelas bahwa Allah mengabulkan permohonan orang yang berdoa dengan catatan “apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku”. Ini mengingatkan pada kita bahwa kita perlu selalu bermohon kepada Allah dalam berbagai kepentingan. Meskipun sebagian ahli sufi mengatakan bahwa Allah maha mengetahui kepentingan hambanya, meskipun dia tidak memintanya Allah akan memberinya.

Hadirin rakhiima kumullah

Istighosah atau doa bersama kali ini dapat dikatakan suatu upaya mendekatkan diri kepada Allah. Kalau kita dengan ikhlas dalam melakukan kegiatan ini, Insya Allah, Allah akan menjadikan momentum ini sebagai ajang pengabulan doa dan permohonan kita, sebagai ajang pengabulan janji Allah sebagaimana ayat di atas. Yakni mengabulkan doa kita untuk mencapai tingkat kelulusan maksimal siswa-siswi SMK N 1  Semarang tahun pelajaran 2006/2007, baik dalam aspek kuantitas maupun kualitas. Bukan tidak mungkin, siswa-siswa yang diperkirakan dipesimiskan kelulusannya oleh sebaian guru, justru akan membelalakkan mata kita, mereka lulus, bhkan dengan kualitas yang memuaskan. Kita tahu bahwa Allah sangat mudah menjadikan hal ini. Allah berkehendak maka jadilah. Ingatlah bahwa  takdir kita dirahasiakan oleh Allah, lulus dan tidaknya kalian masih rahasia Allah. Allah tidak akan mengubah takdir manusia, kecuali manusia itu sendiri yang mengubahnya, tentunya dengan mendekatkan diri dan memohon kepadanyaNya. 

Di lingkungan kita, banyak orang yang merasa belum menemukan Allah, termasuk belum menemukan Allah dalam kehadiran hatinya. Lalu mencari Allah, sedangkan yang dicarinya itu lebih dekat dibanding angan-angannya  tentang “dekat” itu sendiri. Untuk itu maka dzikir kepada Allah (dzikrullah) menjadi amat penting  agar kehadiran Allah bisa istiqamah dalam hati kita, sehingga kita tidak pernah merasa kehilangan Allah.

Selanjutnya Ibnu Atha’illah mengatakan “Sedangkan permintaan kita kepada selain Allah menunjukkan betapa Kita tidak punya rasa malu di hadapan Allah”

Padahal sudah jelas, bahwa rasa malu itu sebagaian dari iman. Kalau orang sudah tidak punya rasa malu di hadapan Allah, maka ia tidak akan punya malu di hadapan makhluk Allah lainnya.

 

Ada Kecenderungan pada diri manusia bahwa manusia banyak mengandalkan pertolongan kepada selain Allah, padahal Allah senantiasa memanggilnya agar si hamba dekat dan memohon kepada-Nya.

Syekh Ibnu Ajibah al-Hasani menyindir, bahwa rasa asyik dengan sesama manusia atau makhluk Allah, itu merupakan tanda-tanda kebangkrutan. Menghadap Allah itu berarti membelakangi makhluk Allah. Menghadap makhluk Allah berarti membelakangi Allah. Padahal dalam prinsip Tarekat Sufi ada satu kaidah, “Dan permintaanmu melalui selain Allah, menunjukkan betapa jauhnya dirimu dari Allah”

Orang seringkali mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi ketika ia kekurangan, ia meminta melalui orang atau makhluk Allah. Padahal telah jelas bahwa Allah maha menyantuni hambanya yang mengorbankan dirinya dalam mencari keridlaanNya. Seperti yang tersurat dalam Q.S. Al-Bakarah 207:

 

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya

 

Ayat ini menjadi salah satu dasar mengapa sebagian ahli sufi mengatakan bahwa kita sebenarnya tidak harus meminta kepada Allh urusan rizki, karena Allah maha penyatun dan maha mengetahui kepentingan hambanya. Namun ada syaratnya bahwa mereka harus menghambakan dirinya kepada Allah dengan mengorbankan dirinya untuk mencari keridlaan Allah. Marilah kita tetap renungkan ayat Allah ini dan berupaya untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya, sehingga keridhaan Allah kita dapatkan, sehingga segala keinginan kita dimengerti dan diketahui Allah, yang akhirnya terwujudlah keinginan kita.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ  

 

Pada khutbah II ini saya mengajak untuk merenungkan kembali bahwa Allah dekat dengan kita, Allah mengabulkan doa kita, asalakan kita mendekat kepadaNya. Upayakan kita tidak mencari Allah karena Allah telah sangat dekat dengan kita, yakinlah bahwa Allah mengerti dan mengetahui apa yang ada dalam hati kita, Allah akan mengabulkan segala keinginan kita mekipun belum diucapkan, asalkan Dia ridha, maka marilah kita senantiasa mencari keridhaaNya. Marilah kita nyatakan keinginan kita keluarga besar SMK 1 Semarang, dalam sebuah doa:

 

 

Ya Allah, Engkau maha pengasih dan maha penyayang, kasihilah hambamu ini, kasihilah keluarga besar SMK 1 Semarang ini, mulai dari kepala Sekolah, guru dan karyawan hingga para siwa, dan seluruh komponen yang dekat dan mendukung program SMK 1 Semarang ini, baik orang tua siswa, komite sekolah maupun komponen yang lain. Jadikan kami sebagai hambamu yang selalu mensyukuri nikamatmu, kami yakin kami bersyukur maka Engkau menambah pemberian nikmatMu. Arahkan kami agar kami senantiasa dekat denganMu, kami yakin kedekatan kami akan memunculkan keridhaanMu.

 

Ya Allah, Engkau maha pengampun, ampunilah kami Keluarga besar SMK1 Semarang

perbaikilah hubungan antar personal di SMK 1 Semarang ini, lembutkan hati kami, lembutkan dan santunkan perkataan kami sebagai upaya untuk menghindari saling ketersinggungan diantara kami. Jadikan seluruh warga SMK1 Semarang ini saling menghormati, saling menghargai, saling menyayangi, saling percaya dan saling dapat dipercaya. Jadikan kami sebagai hambaMu yang senantiasa mau bertanggungjawab atas segala tugas dan tanggung jawab kami.

 

Ya Allah, Engkau  paling tahu tentang kebijaksanaan, jadikan para pemimpin kami sebagai pemimpin yang bijaksana, yang cerdas, yang peka terhadap kondisi yang dipimpinnya, sehingga senantiasa berupaya memperbaiki kondisi manakala buruk, dan meningkatkan kualitas kondisi manakala dirasa telah baik. Jadikan Para guru dan karyawan SMK1 sebagai hambamu yang selalu mengutamakan pelayanan, baik pelayanan kepada siswa maupun kepada sesama warga SMK1 Semarang, kami sadar bahwa hidup adalah melayani dan bukan untuk minta dilayani. Karena itu perbaikilah dan tingkatkan pelayanan kami kepada yang seharusnya kami layani.

Ya Allah, yang  maha mengetahui kepaneitnan hambanya. Jadikan siwa-siwi kami sebagai siswa-siswi yang tahu akan tugasnya, berilah kepadanya kemudahan dalam belajar, dalam memahami apa yang dipelajari, dalam menerima dan menyerap ilmu yang diberikan guru-gurunya, arahkan mereka agar senantiasa semangat dalam belajar, dan jadikan mereka selalu dekat dengaMu, agar Engkau tidak ragu untuk menurunkan ridha dan mengabulkan keinginan mereka untuk lulus dan cepat mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan proporsional bagi yang menginginkan bekerja, mudahkan mereka dalam memasuki perguruan tinggi, bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah.

Ya Allah, ampinilah dosa kami, dosa orang tua kami, dosa para pemimpin kami, dosa para pendukung kami, dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.

Kabulkan permohonan kami ya Allah

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk

Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta

Ya Allah, berilah kesabaran kepada kami atas kebenaran, keteguhan dalam menjalankan perintah, akhir kesudahan yang baik dan ‘afiyah dari setiap musibah, bebas dari segala dosa, keuntungan dari setiap kebaikan, keberhasilah dengan surga dan selamat dari api neraka, wahai dzat yang Maha Pengasih

 

Allahummaghfirli waliwaalidayya, warhamhuma kama rabbayana shahiira.

 

 

 

 

 

Khutbah Jumat 3

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 5:59 pm

ALLAH SELALU MEMANGGIL KITA

 

Seringkah kita dihampiri pertanyaan-pertanyaan klasik seperti : 

  1. Apa makna hidup saya?
  2. Kenapa hidup saya terasa hambar, hanya berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode senang dan sedih?
  3. Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya? Mengapa hidup seperti monoton, hanya itu itu saja yang saya lakukan? Apa tidak ada pola kehidupan yang variatif? Yang menyenangkan setiap saat?

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Sekolah, mengejar ekonomi dan karier, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun, sebagai sebuah rutinitas yang monoton. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita juga mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.

Kita memang diciptakan untuk beribadah. Setiap hari kita sholat, mengaji, dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. Namun kadang kita tidak menyadari kalau yang kita lakukan tidak kita sadari, hanya semacam rutinitas yang tidak bermakna.

 

Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini.Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah? Percayalah bahwa Allah akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya. Sinyal-sinyal ghaib sebenarnya juga disampaikan kepada kita, kita akan mengalami apa setelah ini, kita akan mendaptkan apa setelah ini, kita harus kemana setelah ini, meskipun tidak setiap orang peka dan dapat menangkap sinyal itu. Ingat Allah maha pengasih, maha bijaksana, maha memberi.

Seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu.  Seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan. Bentuk  ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari hakekat hidup, termasuk para Nabi. Nabi Ibrahim misalnya yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), terabasikan  dalam QS 6:74-79

 

 

 

 

 

 

 

1.       Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

2.       Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.

3.       Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

4.       Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

5.       Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

6.       Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ          

 

Khutbah Jumat 2

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 5:53 pm

Perjuangan Perempuan di Masa Rasulullah: Model Panutan Gerakan Perempuan dalam Islam

Oleh Badriyah Fayumi

 

Ketika perempuan di dunia Islam menggeliat menyuarakan haknya, banyak  orang merasa tersentak, terutama mereka yang selama ini hidup nyaman  dengan sistem patriaki. Yang muncul kemudian adalah resistensi  terhadap segala gerakan yang ditengarai menyuarakan hak-hak perempuan. Dari yang menganggap gerakan itu sebagai adopsi barat, sampai yang menganggap tidak ada dasarnya dalam Islam. Memang, jika kita merunut sejarah Islam sejak zaman klasik sampai  sekarang, gerakan perempuan selalu berhadapan dengan arusan besar yang  tidak menghendaki perubahan akibat gerakan itu. Namun, tidak berarti  bahwa gerakan perempuan dalam Islam tidak ada dan tidak diakui agama.  Teks-teks suci keagamaan menunjukkan bahwa gerakan perempuan, terutama  di awal Islam, memiliki bobot dan pengaruh terhadap rumusan  ajaran-ajaran formal keagamaan pada masa Nabi Muhammad Saw.

Sebenarnya gerakan perempuan sudah ada sejak jaman Rosulullah saw, sebagai rujukan kita dalam menyikapi gerakan perempuan, mengingat

1.         Rasulullah diakui sebagai panutan seluruh umat Islam, baik dalam ucapan, perbuatan, penetapan, sifat maupun sistem nilai yang dibentuknya. Selain itu, generasi sahabat yang hidup semasa Rasulullah  diakui secara aklamasi sebagai generasi Islam terbaik.

2.         Dinamika  gerakan perempuan yang terjadi pada masa sahabat tidak terjadi pada  masa-masa sesudahnya, bahkan ketika peradaban Islam sedang berada di puncak peradaban dunia, di masa Abbasiyah. Barulah pada akhir abad kesembilan belas, ketika Islam menyadari ketertinggalannya, gerakan  perempuan Islam akhirnya muncul. Menyusul kesadaran perlunya kebangkitan Islam pasca kolonialisme.

Gerakan perempuan memiliki pengaruh  langsung terhadap turunnya ajaran-ajaran agama, khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Al-Qur’an menyatakan dengan sangat jelas pengaruh tersebut. Dalam Al-qur’an terdapat beberapa ayat yang mengakomodir aspirasi perempuan yang turun segera setelah ada suaradari perempuan. Sebagai contoh, ayat 35 Surat Al-Ahzab

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Ayat ini  secara imsplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum  perempuan dalam Al-qur’an tidak diungkap sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, ketika Nabi berkhotbah diatas mimbar, Nabi  mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat “Orang-orang Islam  laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.” Demikian disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari hadist riwayat Imam Nasa’i dan Ibnu Jarir Abdul Wahid bin Ziyad.

 

Al-Qur’an juga merekam peristiwa pertikaian pasangan suami-istri Khaulha binti Malik bin Tsa’labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah mengadu kepada Nabi bahwa suaminya telah men-zihar-nya (menyerupakan fisik istri dengan ibunya sehingga si istri menjadi haram digauli oleh suaminya). Setelah zihar itu, sang suami terus memaksanya untuk melakukan hubungan seksual. Namun Khaulah selalu bersikeras menolak dengan berbagai cara, sampai suaminya menjauh dari Khaulah. Mendengar pengakuan itu, Nabi terdiam. Beberapa saat  kemudian, beliau berkata kepada Khaulah yang menolak disetubuhi, sekaligus memberikan penjelasan mengenai hukum suaminya yang men-zihar istrinya. Pembelaan Al-Qur’an kepada perempuan juga spontan turun ketika Abdullah bin Ubayy bin Salul, gembong kaum munafik, mencoba melacurkan Mu’adzah yang hamil. Dan saat melahirkan, anak yang dilahirkan akan ditebus dengan harga mahal oleh Ubbay. Mu’adzah menolak hal tersebut. Nabi memberikan sebuah pembelaan yang sangat jelas terhadap perempuan  seperti Mu’adzah. Bagi perempuan yang dipaksa untuk dilacurkan, Allah secara tegas menyatakan bahwa mereka adalah Maha Pengampun dan Pengasih.

 

Tiga kasus di atas dengan jelas menunjukkan keberanian perempuan menyuarakan haknya telah ada di zaman Nabi. Ummu Salamah memperjuangkan hak istri, sementara Mu’adzah memperjuangkan hak reproduksinya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sekalipun dalam tiga kasus ini mereka kebetulan berbicara sendirian, sesungguhnya mereka menyuarakan suara perempuan secara umum. Yang  perlu kita garis bawahi di sini, keberanian itu muncul kerena iklim sosial yang dibentuk Nabi Saw sangat kondusif terhadap problema perempuan, termasuk hal paling pribadi sekalipun. Kurang lengkap rasanya mengurai perjuangan (baca:gerakan) perempuan Islam masa awal tanpa menyinggung dua peristiwa besar yang menunjukkan  keteguhan dan kemandirian kaum perempuan dalam menentukan sikap hidupnya. Peristiwa itu adalah Bai’at an-Nisa’ (Bai’at keIslaman kaum perempuan) dan Hijrah ke Madinah. Dalam Bai’at an-Nisa, Allah memerintahkan Nabi untuk membai’at dan memintakan ampunan kepada perempuan yang secara sadar datang bersama-sama untuk berbai’at. Untuk menguji kesungguhan kaum perempuan ini, Rasulullah-sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadist sahih berdasarkan kesaksian Umaimah binti Ruqaiqah, salah seorang perempuan Anshar peserta bai’at-mengajukan banyak pertanyaan kepada sekelompok yang hendak berbai’at ini. Peristiwa bai’at ini terekam dengan gamblang dalam  surat al-Mumtahanah ayat 12.

 

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

 

Peristiwa lebih dramatis terjadi juga pada beberapa perempuan yang  secara sadar meninggalkan segala kemewahan hidup dan keluarganya yang masih memusuhi Islam untuk ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi. Menghadapi perempuan teguh seperti ini, lagi-lagi Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk menguji keteguhan imannya. Jika benar-benar bulat tekadnya, maka mereka harus dilindungi dari ancaman dan serangan yang mungkin dilakukan keluarganya. Ummu Habibah, putri Abu Sufyan           pembesar Kuffar Makkah yang kemudian menjadi istri Nabi, merupakan satu  di antara para perempuan yang teguh ini. Perjuangan para perempuan  yang hijrah meninggalkan keluarganya ini diabadikan dalam surat  Al-Mumtahanah ayat 10-12. Ilustrasi di atas menunjukkan, sejak awal perempuan Islam sudah memiliki kesadaran kolektif untuk menyatakan sikap hidupnya, walapun  harus berhadapan dengan risiko besar. Meskipun demikian, kesadaran  kolektif itu belum terjalin dalam sebuah gerakan perempuan yang           sistematis seperti saat ini. Al-Hadis dan Perjuangan Perempuan Meneropong apa yang terjadi dalam  gerakan perempuan Islam dalam sejarah, sangat mustahil jika tidak membuka hadis Nabi. Hadis Nabi merupakan bukti otentik atas dinamika yang terjadi di masa itu, termasuk dinamika gerakan perempuan Islam.  Kalau kita melihat hadis Nabi yang berbicara mengenai perempuan, kita  temukan bahwa sebagian besar hadis muncul karena ada pertanyaan atau kasus yang dialami perempuan. Seperti masalah relasi suami istri, baik relasi seksual maupun relasi keseharian, dan bagaimana peran publik dan sosial perempuan, merupakan beberapa bukti betapa inisiatif dan aspirasi perempuan menjadi sebab utama munculnya hadis-hadis tersebut.

 

Sepintas lalu, proses munculnya ajaran tentang perempuan yang demikian tampaknya meneguhkan anggapan bahwa agama kurang menaruh perhatian pada perempuan. Namun, jika dilihat dari perspektif yang lain, hal itu justru merupakan fakta betapa agama tidak semena-mena dalam memberikan peraturan menyangkut perempuan. Nabi sebagai pembawa risalah sangat menyadari bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang tidak serta merta memahami seluk beluk perempuan. Karenanya, beliau perlu mendengar suara perempuan sebelum memberikan satu keputusan agama. Sikap ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kecenderungan  sebagian ahli agama yang merasa paling tahu dan karenanya merasa paling berhak membuat aturan tentang perempuan. Padahal, kalau           Rasulullah berkenan, dengan mengatas namakan wahyu Tuhan, semua  peraturan bisa dibuat. Namun Rasulullah tidak melakukan hal itu. Rasulullah tidak memonopoli suara perempuan dengan menjadikan agama  sebagai senjata. Sebaliknya, agama ditempatkan Rasulullah sebagai  ruang dialog yang bisa mewadahi aspirasi pemeluknya, tidak terkecuali   kaum perempuan.  Harus diakui, langkah yang ditempuh Nabi ini merupakan apresiasi besar  terhadap keberadaan kaum perempuan. Ini merupakan suatu hal yang luar

biasa, mengingat tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebiasaan mewarisi dan menjadikan perempuan bak barang tinggalan, menguasai sistem sosial yang berlaku saat itu. Sikap Rasulullah yang akomodatif ini membuat sahabiyat (sahabat perempuan Nabi) merasa bebas menyuarakan aspirasinya. Pada gilirannya, situasi ini menyuburkan

gerakan perempuan Islam di masa Nabi Saw. Sejarah mencatat bahwa majlis ta’lim untuk perempuan pada masa Nabi  telah ada. Dan seperti disinggung di atas, alasan terbentuknya majlis  ta’lim ini adalah kebutuhan sahabiyat akan ilmu agama sebagaimana sahabat laki-laki. Mereka meminta Nabi untuk menyediakan waktu khusus untuk perempuan karena merasa perhatian Nabi kepada laki-laki lebih besar daripada kepada mereka. Nabi langsung menyetujui keinginan itu. Persamaan keinginan untuk belajar ini pada gilirannya membuat sahabiyat memiliki semacam komunitas bersama. Tercatatlah nama Asma’  binti Yazid, seorang sahabiyat cerdas yang diangkat menjadi juru bicara para sahabiyat. Suatu kali di hadapan para sahabat laki-laki, Rasulullah memuji kemampuan Asma’ ini. Lagi-lagi tema yang diangkat dan mendatangkan pujian nabi ini mengenai persamaan hak perempuan dan laki-laki. Pertanyaan Asma’ di atas adalah persoalan kolektif yang dikemukakan secara kolektif pula. Sahabiyat biasa mengajukan pertanyaan dan mengadukan persoalan mereka di masjid atau dalam suatu forum terbuka.          Ini merupakan salah satu cara sahabiyat menyampaikan aspirasi  perempuan. Cara lain adalah langsung bertanya kepada Nabi secara  pribadi, sesekali juga melalui istri Nabi. Pertanyaan langsung secara  pribadi pada Nabi umumnya dilakukan sahabiyat jika persoalannya  bersifat spesifik, seperti istihadhah atau menyangkut relasi suami istri. Menyampaikan aspirasi, baik yang bersifat memperjuangkan hak perempuan atau mencari tahu ajaran agama menjadi tradisi yang tumbuh subur di kalangan sahabiyat, terutama di kalangan Anshar. Tidak heran jika  Ummul Mukminin Aisyiah r.a memuji sikap perempuan Anshar yang tidak dihalangi rasa malu dalam tafaqquh fiddin. Imam Bukhari mengabadikan  pujian Aisyiah menjadi judul bab dalam salah satu bahasan tentang ilmu  dalam kitab Sahih Bukhari-nya. Sementara Imam Muslim menyitir pernyataan itu dalam suatu hadis mauquf dalam Sahih Muslim-nya.

 

Catatan Penutup

Apa yang dipaparkan ini sesungguhnya belum merekam seluruh peristiwa yang bisa kita sebut sebagai gerakan perempuan Islam di masa awal. Namun demikian, dari berbagai peristiwa dan catatan sejarah yang  terekam dalam al-qur’an dan Al-hadis, kita dapat melihat kecenderungan  umum yang sangat menarik. Baik dari sudut perempuan selaku komunitas  yang memperjuangkan haknya, maupun dari sudut Nabi selaku pemegang otoritas keagamaan dan kemasyarakatan. Dari sudut perempuan, tampak  jelas bahwa hak-hak perempuan itu ada, baik secara kolektif maupun  pribadi. Tanpa itu, sangat mungkin aspirasi perempuan tak terwadahi karena pemegang otoritas kebetulan seorang laki-laki. Dari sudut Nabi, beliau telah memberikan contoh yang sangat ideal mengenai bagaimana  seharusnya seorang laki-laki pemegang otoritas mewadahi aspirasi perempuan. Dalam kedudukannya sebagai Nabi yang punya hak penuh mengatur ummatnya, Muhammad Saw tidak semena-mena membuat aturan mengenai perempuan dengan mengatasnamakan agama tanpa memperhatikan sungguh-sungguh aspirasi kaum perempuan. Konfigurasi dari dua sisi yang saling mengisi itupun kemudian membuka kemungkinan perempuan  untuk menyuarakan aspirasi kaumnya. Jika sahabat yang merupakan contoh terbaik generasi Islam saja tidak ragu-ragu memperjuangkan hak dan aspirasi mereka, layakkah kita yang hidup di era modern ini tidak berani menyuarakan hak dan aspirasi kita dalam sebuah wadah besar yang bernama gerakan perempuan?

          

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ          

        

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Khutbah Jumat 1

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 5:41 pm

UMAAT ISLAM SELALU MEMBELA MUHAMMAD

 

Beberapa waktu yang lalu kita digegerkan oleh berita pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw dengan dimuatnya karikatur Nabi Muhammad saw di Koran Denmark. Penggambaran Sosok Rasulullah yang sangat merendahkan martabat Rasulllah itu sendiri, membuat para penganutnya kecewa, jengkel, marah, Apalagi ditambah Menteri Italia Roberto Calderoli, juga memakai kaos bergambar kartun Nabi Muhammad.

 

mengapa umat Islam selalu membela Muhammad?

 

Rasulullah Muhammad saw., sosok yang amat dihormati kaum muslimin, tauladan yang paling ideal bagi setiap pribadi mukmin, perkataan dan perbuatan beliau terekam dalam lembaran-lembaran kitab, dengan menyertakan sanad dan rawi tsiqah yang menjaganya dari kedustaan. Sehingga, walau sudah 14 abad lebih jarak kita dengan Rasulullah saw. tapi kita masih bisa menelaah dan menghayati kalimat demi kalimat yang pernah beliau tuturkan.

Perkataan, perbuatan serta persetujuan Rasulullah saw, sendiri memiliki posisi yang amat tinggi dalam Islam, ia adalah sumber kedua setelah Kitabullah. Dan dalam penyampaiannya pun ada adab-adab tertentu yang harus dipegang oleh seorang muhadits, sebagaimana disebutkan Imam Adzahabi, bahwa Imam Malik mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian serta mengenakan pakaian yang bagus ketika hendak menyampaikan hadist (Al Muqidzoh, hal. 67).


Bahkan Allah telah berfirman: Al Ahzab: 6

 

Diri Nabi lebih berharga daripada jiwa-jiwa orang mukmin.” (Al Ahzab: 6). Lengkapnya

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)

 

Dan diriwayatkan bahwa Umar ra. berkata kepada Rasulullah saw., “wahai Rasulullah, demi Allah benar-benar engkau yang paling aku cintai, melebihi cintaku terhadap segala sesuatu, kecuali terhadap diriku sendiri”. Maka bersabdalah Rasulullah: “Tidak wahai Umar, sehingga engkau mencintai aku lebih dari cintamu terhadap dirimu sendiri”. Lalu berkatalah Umar ra: “Demi Allah wahai Rasulullah, benar-benar engkau yang paling aku cintai terhadap segala sesuatu hingga terhadap diriku sendiri.” Maka berkatlah Rasulullah saw: “Sekarang wahai Umar”. (HR. Bukhari)

 

Penghinaan dan Ideologi Kebebasan

Umat Islam di seluruh penjuru dunia tiba-tiba terperangah, ketika ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab merendahkan kedudukan beliau dengan memvisualkan nya dalam bentuk karikatur melecehkan yang dipublikasikan Jyllan Posten, sebuah media massa yang diterbitkan di Denmark, kemudian dipublikasikan ulang oleh media-media di Jerman, Belanda, Itali, bahkan Rakyat Merdeka pun tidak mau kalah

Dan yang amat menyakitkan lagi, pihak-pihak yang bersangkutan ada yang merasa tidak bersalah serta tidak mau meminta ma’af dan pemerintahnya enggan menindak para pelakunya, dengan alasan yang cukup praktis, bahwa hal itu menyangkut kebebasan berekspresi.

Kebebasan bagi Barat seakan-akan wahyu yang tidak boleh disentuh, tidak boleh dikritik, bahkan ideologi ini bisa mengalahkan wahyu-wahyu yang sebenarnya. Tidak sebatas itu, pihak Barat -sebagai bangsa-bangsa yang berkuasa- telah mengampanyekan ideologi ini -salah satunya- melalui jalur-jalur LSM dan mulai memaksakan paham kebebasan ini kapada negeri-negeri muslim serta menggunakannya sebagai senjata untuk menghadang berlakunya syari’at Islam.

Sikap congkak dan arogan yang dimiliki “kaum pemuka” yang hidup di zaman ini tidaklah berbeda dengan sikap “kaum pembesar” kafir ketika berhadapan dengan risalah yang dibawa para rasul. Salah satu kaum pemuka dibumi ini adalah presiden Amerika Jeorge W. Bush, yang sangat anti muslim. Dia akan selalu memusuhi umat Islam dengan isu teroris. Resolusi DK PBB yang mengutuk dan menghukum Israel atas sewenag-wenagnya terhadap rakyat Palestina dia Veto, dia batalkan dengan begitu saja. Seolah dialah yang paling berkuasa di muka bumi ini. Nangudzubillahi mindzaalik.

Muhammad Qutub mengajak kita merenungi ayat-ayat Allah tentang reaksi para penguasa dan pembesar kaum-kaum terdahulu terhadap para rasul yang diutus untuk mereka, dalam Dirasat Qur’aniyah, hal 107 dia menukil:

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa ditimpa azab hari kiamat”. Para pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.”(Al A’raf: 59,60)

Juga dalam surat Al A’raf 65, 66

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (Al A’raf: 65,66)

Perilaku yang serupa, juga ada pada kaum Tsamud dan penduduk Madyan,

Di setiap masyarakat jahiliyah selalu ditemukan “pemuka”, mereka adalah para pemimpin, bangsawan bagi hamba-hamba yang mentaatinya. Di masyarakat jahiliyah merekalah yang “memiliki” dan “menghukumi”. Yang membangun ‘syari’at’ dari hasil pemikiran mereka, untuk menjaga pengaruh dan kekekuasaanya terhadap para “hamba”.

Dengan kekuasaan dan kemapanan yang dimiliki mereka mengadakan pemaksaan kapada yang lemah agar selalu tunduk terhadap paham dan hegemoni mereka.

Propaganda terus-menerus mereka lancarkan dengan segala sarana yang dimiliki, sebagai jalan utnuk mempertahankan kekuasaan serta memendung arus dakwah tauhid. Pendek kata, semua harus memiliki keyakinan sama dengan mereka, pandangan yang sama, hukum yang sama, jika tidak mereka tidak segan-segan untuk mengancam, memerangi, mengembargo, atau bahkan membasmi mereka yang enggan untuk tunduk

Sesungguhnya loyalitas, tunduk dan taat hanyalah kepada Allah semata. Akan tetapi para “pemuka” ini menghandaki bahwa loyalitas hanyalah kepada mereka saja, dan taat hanya kepada mereka semata.

La ilaaha illallaah bermakna bahwa sesunggunya kekuasaan hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya yang berhak menghukumi hanyalah Allah, yang menghalalkan dan mengharamkan, menilai baik atau buruk, membolehkan dan melarang hanyalah Allah. Akan tetap para “pemuka” ini menginginkan bahwa kekuasaan itu ada dalam genggaman tangan mereka, dan hanya mereka yang boleh menghukumi, sarta menghalalkan dan mengharamkan dengan cara mereka sendiri.


Walhasil, umat Rasulullah saw. saat ini juga sedang menghadapi “para pemuka” bumi yang berusaha memaksakan kehendaknya. Menghadang dakwah tauhid yang mereka serukan. Menekan kaum lemah dengan berbagai cara agar tunduk di bawah kekuasaan mereka.

“Pemuka-pemuka” yang menghendaki agar umat Islam mengikuti apa saja yang mereka putuskan tanpa perlu mereka menyanggah atau bertanya. Para “pemuka” yang siap membelanjakan harta mereka untuk menyebarkan ideologi dan ‘syari’at’ versi mereka, sampai umat tunduk dan ‘sujud’ dibawah telapak kaki mereka dengan label “kebebasan”.

Bahkan, jika perlu, mereka akan menghalalkan segala cara, diantaranya, termasuk melakukan image kepada sosok Muhammad, simbol kecintaan umat Islam seluruh dunia, sebagaimana baru-baru ini terjadi.

Sayangnya, para kaum ‘pemuka’, tak menyadari, begitu tinggi kedudukan Muhammad di mata umatnya, bahkan Allah SWT saja, sang Penguasa dan Pencipta Alam raya ini bersolawat padanya.

Dalam  Firmannya:

 

Sesungguhnya Allah beserta para malaikatnya bersholawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab: 56).

Karena itu, kecintaan umat Islam di seluruh dunia terhadap agama ini dan kepada junjungannya bernama Muhammad, tak akan runtuh dengan cara apapun. Sebaliknya, cara-cara yang tidak elegan, termasuk dengan pelecehan dan penghinaan seperti itu, justru menjadi bumerang baru sebagai bukti pembelaan bagi kaumnya.

 

« Newer Posts

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.