SHAMIR'S WEB BLOG

April 20, 2009

Bagaimana menjadi guru teladan?

Filed under: Pengalaman pribadi — samiranshamir @ 4:15 am

Seleksi guru teladan (guru berprestasi istilah saat ini) sebenarnya merupakan ajang melihat dan refleksi diri bagi para guru.  Kadang seorang guru telah merasa dirinya sudah paling bagus, paling super, paling berhasil dalam mengajar diantara teman teman di sekolah di mana guru tersebut berada. Indikator yang mudah ditemukan adalah ketika kumpul sesama guru yang sifatnya non formal, sering terlontar bahwam dirinyalah yang paling bagus dalam mengajar, dirinyalah yang paling menguasai dalam materi pembelajaran, dirinyalah yang paling baik dalam mencetuskan ide, dirinyalah yang paling bisa dalam mengatasi masalah siswa nakal, siswa pandai, dan masih banyak lagi yang lain. Memang tidak dipungkiri bahwa setiap orang (termasuk guru) memiliki kecenderungan untuk sombong, mengunggulkan dirinya dibanding dengan teman atau orang lain. Relatif sedikit guru yang menyadari bahwa dirinya mempunyai banyak kekurangan.  Cerita-cerita di depan kelas ketika mengajar juga mengindikasikan kecenderungan untuk sombong di hadapan para siswanya. Namun ketika ada edaran seleksi guru teladan (guru berprestasi), lomba karya tulis, lomba karya ilmiah, sangat sulit mencari guru yang dengan suka rela dan kesadaran diri mengajukan dirinya kepada sekolah untuk mengikutinya. Kondisi ini ternyata terjadi di hampir setiap satuan pendidika baik di tingkat SD, SMP, maupun di tingkat SMA/MA/SMK. Sangat ironis memang. Namun itulah kondisi real di lapangan. Apakah ini sudah sifat dan karakter sebagian besar bangsa Indonesia yang cenderung enggan berkompetisi? Meskipun sebenarnya keikutsertaan pada ajang lomba, sangat dibutuhkan untuk mengetahui potensi diri secara nyata. Lomba merupakan ajang refleksi diri sejauh mana potensi diri kita dibanding dengan para guru yang lain di luar institusinya (tidak seperti jago kandang yang hanya menang di kandangnya sendiri, namun ketika di kandang lawan tidak ada apa-apanya).

Dalam seleksi guru teladan, empat aspek kompetensi guru benar benar diuji, yakni aspek paedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian.

Paedagogis

Pada aspek ini, guru dituntut untuk mengetahui teori belajar, teori mengajar, teori perkembangan jiwa anak, juga dituntut untuk memahami kurikulum yang berlaku terutama yang menyangkut arah pembelajaran dan semangat kurikulum yang berlaku saat itu. Pada seleksi guru teladan, aspek ini diukur melalui tes tertulis maupun tes wawancara, disamping juga diukur melalui ada dan tidaknya dokumen pembelajaran yang meliputi

  1. rencana pembelajaran,
  2. laporan pelaksanaan pembelajaran,
  3. data hasil evaluasi pembelajaran
  4. data analisis hasil evaluasi dan
  5. laporan program tindak lanjutnya

Kelima dokumen tersebut perlu lengkap dan lampirkan dalam bentuk portofolio yang disatukan dengan dokumen aspek yang lain (10 aspek/komponen sertifikasi guru).

Profesional

Pada apek ini, guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran sesuai yang dikehendaki dan diamanatkan oleh kurikulum, tentu berkaitan dengan bidang ajar yang digelutinya, sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Pada seleksi guru teladan, aspek ini diuji melalui dukumen karya pengembangan profesi, misal ada dan tidaknya buku hasil karya yang dipublikasikan, karya ilmiah yang dipublikasikan baik melalui jurnal terakreditasi maupun melalui media lain yang relevan. Kepemilikan piagam penghargaan dan sertifikat keikutsertaan dalam forum ilmiah, juga dapat menjadi indikator penguasaan aspek profesional seorang guru.

Sosial

Aspek ini sangat banyak indikatornya. Sering dan tidaknya guru diberi tugas di sekolah yang tercermin pada banyak dan tidaknya SK penugasan kepala sekolah pada guru tersebut, bagaimana peran guru di lingkungan tempat tinggalnya (biasanya dibuktikan dengan surat keterangan Kepala Keluranan) apakah menjadi ketua RT, ketua RW, penasehat RT penasehat RW, anggota/pengurus Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), atau Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota (LPMK), anggota/pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), atau jabatan lain di lingkungan tempat tinggalnya.

Kepribadian

Seorang guru teladan tentu tidak lepas dari kepemilikan kemantapan dan kematangan kepridadian. Indikator aspek ini diuji melalui wawancara dan tes tertulis. Bagaimana cara berpenampilan dihadapan penguji, bagaimana cara menjawab dan cara berbicara dihadapan penguji, bagaimana cara menolak atau menyanggah atau berargumentasi ketika dipersalahkan penguji. Disisi lain juga dapat diuji melalui pertanyaan yang sifatnya mengarah pada pandangan pribadi tentang suatu masalah.

Lain-lain

Karya Ilmiah, adalah aspek penting yang harus ada dalam seleksi guru berprestasi. Karya ilmiah ini dapat berupa laporan penelitian, makalah seminar atau simposium , dan artikel jurnal.  Untuk yang satu ini, nampaknya tidak boleh tidak. Seorang guru teladan cenderung wajib mempunyai karya ilmial, entah berupa hasil penelitian atau tulisan yang lain, yang dihasilkan melalui prosedur ilmiah. Satu lagi yang tidak kalah pentingnya untuk dikuasai dalam seleksi guru berprestasi adalah hafal, mengerti, dan memahami peraturan dan perundangan dan kebijakan tentang pendidikan di Indonesia.

Tulisan ini hanya merupakan hasil renungan seorang guru kecil yang ingin berbagi pengalaman kepada rekan rekan guru yang ingin mengikuti seleksi guru teladan (guru berprestasi). Penulis berbagi hasil renungan ini sehubugan pernah mengikuti seleksi guru berprestasi tingkat kota Semarang yang kebetulan baru meraih juara 3 tingkat kota Semarang, pada tahun 2008.

semoga bermanfaat.

September 16, 2008

Jadi Guru Teladan?

Filed under: Pengalaman pribadi — samiranshamir @ 5:32 am

Kadang geli juga saya kalau mengingatnya. Tapi juga kaget dan kurang menerima, meskipun harus menerima dan bersyukur juga.
Sekitar tanggal 15 Februari 2008, saya diminta oleh P Sindu (wakil kepala bidang ketenagaan) untuk mendaftarkan diri sebagai peserta seleksi guru berprestasi tingakat sekolah di SMK 1 Semarang. Katanya sih setiap jurusan diharap mengajukan calon. Hasil seleksi nantinya akan dikirim mewakili SMK 1 Semarang ke tingkat kota, bersaing dengan para juara sekolah dari SMK dan SMA/MA. Nah berhubung saya ketua jurusan
Teknik Penyiaran Radio, maka saya pun harus mencalonkan anggota saya tuk maju seleksi guru berprestasi tingkat sekolah. Namun anggota saya hanya 1 yang pegawai negeri yaitu Bu Lilik (sekretaris jurusan saya). Dia malah memilih saya agar saya maju. Kemudian saya menemui Ibu Hasti, koordinator guru Normatif Adaptif di sekolah saya. Ketika dia saya bertanya seputar seleksi guru berprestasi, malah dia mencalonkan saya agar maju mewakili kelompok guru normatif adaptif. Setelah saya bertanya kenapa harus saya, dia menjawab katanya sayalah yang pantas maju. Apalagi dia telah dua kali berturut-turut maju ke tingkat kota semarang tanpa pernah ada hasil yang menggembirakan. Akhirnya saya mengiyakan untuk maju mewakili kelompok guru normatif adaptif, sekaligus mewakili jurusan saya. karena tanggal 22 Februari adalah hari terakhir untuk mendaftar ke tingkat kota Semarang, maka saya nanya perihal siapa yang dikirim mewakili SMK 1 Semarang kepada P Sindu. Meskipun saya cukup yakin bahwa diri saya yang akan dikirim oleh dia, tapi saya mempersilahkan apabila ada teman yang berminat maju ke tingkat Kota. Apalagi B Tutik Rumiatun juga ingin mencoba berkompetisi, saya harus tahu diri. Tapi ketika saya bilang bahwa B Hasti mencalonkan saya, dia malah minder, dan malah mensupport saya agar maju. Nah ketika saya nanya kepada P Sindu, dia menyuruh saya yang mewakili Sekolah. Saya nanya apakah sudah hasil seleksi? Dia menjawab “sudah, P Samiran yang paling baik” katanya. Nah karena saya yang harus maju, maka sayapun harus membawa surat keputusan bahwa sayalah yang dipilih. Maka kasubbag TU P Umadi membuatkan surat pengantar ke Dinas Pendidikan Kota Semarang 22 Februari 2008, dengan menerangkan bahwa sayalah yang pemenang di SMK 1 Semarang. Tapi saya telah mempersiapkan karya tulis dan sertifikat (dalam portofilio) tuk dikumpulkan. Diberitahukan bahwa seleksi akan dilaksanakan taggal 18 dan 19 Maret 2008. Tanggal 18 Maret tes tertulis, sedangkan tanggal 19 maret tes wawncara dan presentasi makalah. Ok saya mempersiapkan diri meskipun tak pernah bisa karena pekerjaan kantor jurusan sangat banyak, apalagi menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian di jurusan Teknik Penyiaran Radio, yang dijadwalkan pada tanggal 14 dan 15 Maret 2008. Ya sudah, sesiap siapnya saja.Nah tanggal 18 Maret jam 07.30 saya datang ke SMK N 4 Semarang tuk mengikuti seleksi tertulis. Stres juga karena saingannya tampak bagus dan kelihatan tokoh juga. Berbekal pasrah pada yang kuasa, sayapun mengerjakan seluruh soal dengan sebisanya. Yah karena banyak yang ngawur juga. Selesai tes ada pengumuman bahwa tes wawancara dan presentasi makalah ditunda tanggal 27 Maret 2008. Yah masih ada waktu tuk mempersiapkan lebih baik, meskipun sama saja.

Tanggal 27 Maret, benar jadi dilaksanakan wawancara dan presentasi makalah. Gila, sampai jam 17.00 dari jam 08.00. Yah karena panitia seleksai kurang mengatur dengan baik urutan majunya, siapa yang ‘ngesrog’ itulah yang maju, maka saya termasuk 5 orang yang maju terakhir, dari 27 orang. Antara uyakin dantidak yakin hasil yang diperkirakan akan muncul. Kalau melihat dari sisi presentasi teman-teman sih saya merasa gak kalah, cukup ‘pede’ dan optimis, meskipun saya gak tahu satu demi satu pesaing saya. Eh tanggal 15 April malam ada kabar bahwa P Subiyanto guru SMA 3 yang menduduki rangkig atas, meskipun tidak nomor 1. Wah bergetar badan saya, dengan bertanya tanya apakah mungkin saya yang nomor satu. Antara yakin dan tidak yakin. Eeeeh tanggal 16 April ada pemberitahuan bahwa saya ‘rangkin 3′. Gak puas sih, tapi yang disyukuri. Matur kepada kepala sekolah tuk minta maaf karena gak bisa menduduki peringkat 1, tapi hanya peringkat 3. Kepala sekolah hanya berkomentar, Eeeh udah bagus itu, lalu dia mengucapkan selamat pada saya, sambil bertanya siapa yang jurara 1 dan 2, yang kemudian saya jawab ‘guru SMA 16 dan SMA 3. Demikian pula saya juga beritahu P Sindu yang mengirimkan saya, perihal juara 3. Diapun sama komentarnya, dah bagus. Yah . . . . mesti hanya tuk ngayem-ngayemi saya.

Tanggal 17 April 2008, saya tidak mengikuti upacaya di sekolah, karena dipanggil Kepala Dinas Pendidikan Kota, tuk menerima pembinaan, dan mestinya penghargaan (di benak saya). Ketika di ruang kepala dinas, kami para juara memang mendapat mengarahan dan janji diberi hadiah uang. Memang benar, setelah dari ruang kepala dinas, saya dan para juara lainnya disuruh masuk di ruang kasubdin Tenaga Teknis, dan mendapat hadial uang, serta surat keputusan walikota tentang juara guru berprestasi. Cukup banyak sih Rp 500.000 potong pajak 15%.

 

Menyandang predikat juara 3 tingkat kota Semarang, sebenarnya sudah lebih dari cukup apabila ditinjau dari kondisi di SMK N 1 Semarang ya sekolah saya sendiri. Hal ini wajar karena telah sangat lama semenjak P Kasmadi menjadi juara 1 tingkat kota Semarang, tidak pernah ada juara lagi. Bu Hasti yang 2 kali berturut turut saja selalu gagal merebut juara. Meskipun beberapa Kepala Sekolah SMK berkomentar, bahkan samapi menelpon Kepala Dinas Pendidikan bahwa keputusan dewan juri tidak realistis dan penuh rekayasa. Namun bagi saya sih cuek saja. Terlepas dari itu semua yang pasti jura1 dan 2 mestinya mempunyai keunggulan tertentu dibanding saya.

Rentetan pengahargaan, datang kepada saya terkait dengan menyandang guru teladan. Meskipun penghargaan yang non materal (tidak berupa uang atau barang). Salah satunya adalah diundang dalam sidang paripurna DPRD kota Semarang hari Jumat, 15 Agustus 2008 di duang sidang DPRD Kota Semarang. Hari Minggu tanggal 17 Agustus 2008, diminta Wali Kota Semarang untuk menjadi tamu undangan pada upacara peringatan HUT RI ke 63 di halaman Balai Kota Semarang, dengan berpakaian jas lengkap berdasi (PSL). Karena undangan, maka posisi duduknya di kursiundangan bersamaan dengan para anggota dewan dan para pejabat pemerintahan kota Semarang. Masih diundang lagi pada malam selasa 18 Agustus 2008 untuk menghadiri syukurn pemerintah kota Semarang terkait dengan HUT RI ke 63. Wuah…. jadi beda deh dengan guru-guru yang lain. Itu baru juara 3 tingkat kota Semarang. Lalu bagaimana kalau jadi juara tingkat nasional? wuah … pasti di istana negara Jakarta bersama presiden dan para meneteri dan anggota DPR pusat. Pasti sangat beda. Tapi itu kan cuma andai, andai kan identik dengan mimpi.

July 18, 2008

Kebahagiaan seorang guru

Filed under: Pengalaman pribadi — samiranshamir @ 4:45 pm

Bulan Februari hingga Mei 2008, adalah masa-masa menegangkan. Betapa tidak, setiap guru mata pelajaran yang diujikan secara nasional cenderung gelisah, ragu, takut kalau siswa-siswanya banyak yang tidak lulus. Saking takutnya kepala sekolah (Drs. H. Sukali, MM) berprakarsa mengumpulkan para orang tua siswa kelas III secara bertahap. Tahap pertama jurusan Penyiaran Radio, Listrik, dan Audio Video. Tahap kedua jurusan Mesin dan Otomotif. Pada kesempatan ketemu dengan orang tua, kepala sekolah mengatakan bahwa orang tua perlu ikut berprihatin tuk kepentingan anaknya. Kepala sekolah saja selalu berpuasa demi tercapainya kesuksesan bagi anak-anak siswa kelas III dalam ujian asional. Istighosah diadakan di tingkat sekolah. Ketika saya ikut nimbrung urun bicara, bahwa anak-anak masih sangat jauh dari siap dalam menghadai ujian nasional, data hasil try out menunjukkan bahwa yang lulus pada tahap pertama hanyalah 15 an persen. tapah kedua hanya 25 persen. Lalu kita mau diam saja? demikian dikatakan kepala sekolah. Makin gundahlah hati para orang tua siswa. apalagi ketika saya bicara bahwa kami para guru matematika siap apabila para siswa mengundang tuk belajar bersama, meskipun kami bukan yang mengajar siswa tersebut. Para orang tua siswa semakin gundah. Apalagi ketika saya bicara bahwa saya sangat pesimis kelulusan anak SMK 1 Aemarang. Satu kelas paling banyak hanya 10 an anak yang bisa lulus. Maka ketika pertemuan selesai, banyak dari orang tua yang menemui saya danmeminta untuk membantu anaknya. Berapapun akan dibayar untukkelulusan anaknya. Tapi saya tidak sanggup. Kesanggupan saya hanyalah membantu mendampingi anak belajar, kapanpun saat masih di sekolah. Saya rela pulang hingga sore hari, asal anak-anak semangat belajar.

Kesempatan ini ternyata dimanfaatkan olah anak-anak. Sore hari mulai jam 14 berkelompok dan mengundang para guru. Bu Tutik juga tidak kalah semangatnya, menyediakan waktu khusus tuk masuk ke kelas dan menerima siapa saja yang mau belajar, tidak pandang dia/mereka murid siapa. Kondisi ini mengakibatkan para guru matematika tidak sempat bisa makan siang, akibat habis mengajar, para siswa telah berkelompok dan mengundangnya tuk belajar. Ketika para siswa mengetahui bahwa gurunya tidak sempat makan siang, mereka berinisiatif untuk membawakan makanan tuk gurunya. Saya adalah salah satu yang selalu dibawakan makan siang. Ida (TPR) hampir setiap hari mengirimi makan siang. Dina (TPR) tidakketinggalan juga. Indah mayasari (TPR) bahkan mengirim parsel ketika saya berulang tahun tanggal 6 Februari. Begitu perhatiannya para siswa.

Ketika usaha secara fisik (belajar) telah dirasa maksimal dan sulit tuk ditingkatkan lagi, maka mereka menyadari bahwa doa adalah jalan terakhir yang harus ditempauh. Kekuatandoa adalah segalanya. Allah pasti akan mendengar dan mengabulkan orang-orang yang gigik berusaha dan bersdoa.

Istighosal diprakarsai oleh wali kelas P Mujib, dan disambut baik oleh para siswa, terutama siswa TPR (teknik penyiaran radio). Dengan cara iuran, para siswa dapat menggelar istighosah untuk satu jurusan TPR. Bertempat di Studio, belaksanakanlah istighosal, yang diketuai oleh Ida Hartatik. Renungan saya yang menyampaikan. Ketika renungan saya sampaikan, tidakada satupun siswa yang tidak menagis. Mereka hanyut kedalam alam kesadaran yang paling tinggi. Mereka sadar bahwa Allahlah yang dituju untuk kelulusan. Mereka menyadari bahwa restu orang tua adalah segalanya, demi keridhoan Allah menuju kesusksesan dalam ujian nasional. Mereka menadari benar bahwa kebesaran Allah dan dan kemuliaan Ibu dan Bapak disadari sangatlah menentukan kelulusan.

Malam hari menjelang ujian Matematika digelar, banyak sms yang masuk ke HP saya, yang intinya menanyakan “apa benar P Samiran tidak dapat membantu saat ujian besok”. Trenyuh ketika saya membaca dan meresakan kegelisahan para siswa. Akhirnya saya undang mereka datang ke rumah, saya beri les privat yang terakhir. Akhirnya 3 oranpun datang jam 22.00 di antar orang tuanya. Mereka belajar hingga pukul 01.30 dini hari.

Yah, mungkin jalan dari Allah dibuka untuk para siswa TPR. Kemudahan ketika menjawab soal Matematikapun datang. Yakin tentang jawabannya pun terjadi. Kebetulan juga Ida Hartatik mendapat sms dari anak SMK 7 Semarang, tentang jawaban matematika saat sedang mengerjakan ujian matematika. Wal hasil, jawaban tersebut menyebar juga ke seluruh kelas. Apa yang terjadi kemudian? Maha besar Allah, Maha Pemurah Allah, Maha memberi Allah. Nilai anak-anak TPR bahkan mengungguli anak-anak jurusan lain. Aneh juga ketia Windi mendapat nilai matematika 9.25. Tak percaya juga ketika Khoirul Umam di tunggakan mendapat 9.00 nilai matematika. Praditia Cristy dan M Niam juga mujur dengan nilai 9.25 dan 9.00 pada mate uji Bahasa Inggris. Hebatnya lagi, jurusan TPR 100% lulus deangan nilai rata-rata yang lebih tinggi dari jurusan yang lain. Ajaib memang. Tapi itulah kebesaran Allah.

Ketika kelulusan diumumkan, meskipun banyak yang cemas, tapi akhirnya ketahuan bahwa TPR 100% lulus. Pelukan dan ciuman pun bersadar dipipi kiri dan kanan saya terutama dari siswa-siswa putri penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Hebat, hebat dan hebat siswa TPR.

Saat itulah kebahagiaan seorang guru muncul, meskipun tidak mendapatkan uang, namun kepuasan batin sangat besar, melebihi ketiban uang puluhan juta.

May 14, 2008

Virtual Library

Filed under: Pengalaman pribadi — samiranshamir @ 8:16 am

Diawali tanggal 12 Mei 2008. Dibuka bersamaan dengan penandatanganan MoA antara P4TK dengan TAFE SA. Hari pertama Endar yang presentasi. E learning judulnya, berlangsung dari jam 13.30 hingga jam 17.15. Hari kedua lagi e learning. Materi sama dengan yang dibawkan oleh Endar, hanya orangnya lain. Dari  Tengku Eduard, dosen Universitas Terbuka. Sangat bagus tapi ngantuk. Bersama 23 orang lainnya sebagai peserta. 3 diantaranya dari Semarang, Samiran, Luluk, Hari Seputro. Kumpul juga di sana P Pur Bandung. yah sedikit reuni meskipun cuma dengan 4 orang.

Peserta Diklat Virlib

Peserta Diklat Virlib

Theme: Silver is the New Black. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.