SHAMIR'S WEB BLOG

May 20, 2011

ESENSI GURU TELADAN

Filed under: Artikel — Tags: — samiranshamir @ 6:31 am

ESENSI GURU TELADAN

Citra Seorang Guru

Ketika nama Guru disebut, yang tergambar adalah sosok tokoh, sosok teladan, sosok panutan, sosok serba bisa, sosok pamomong, sosok orang disiplin, sosok orang kharismatik, dan sejumlah sosok yang lain, yang intinya adalah taladan dan panutan.  Maka sangat wajar apabila guru di stiap tempat terposisikan pada posisi yang cukup terhormat. Di kampung, banyak yang menjadi ketua RT, ketua RW, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), atau Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Pengurus Takmir Masjid, dan lembaga kemasyarakatan yang lain. Image seperti ini memang membanggakan, meskipun juga sekaligus beban berat bagi pelakunya. Membanggakan karena terposisikan di tempat yang cukup tinggi dan terhormat. Beban berat, karena kebabasan guru menjadi sangat terebatasi. Apabila ada guru di kampung yang tidak dapat menjalankan amanat masyarakat menduduki jabatan-jabatan tersebut, maka guru tersebut cenderung menempati posisi yang amat rendah di masyarakat. Apabila guru di kampung kok perbuatannya tidak terpuji, maka posisi guru tersebut pun menjadi sangat rencah. Tentu cenderung muncul komentar minir apabila seorang guru tidak dapat menjadi contoh dan teladan di mana dia tinggal. Ucapan-ucapan minir pun segera terlontar. Kata-kata berikut sering terloncar di masyarakat:

  1. Guru kok tidak disiplin,
  2. Guru kok pakaiannya tidak sopan,
  3. Guru kok omongannya kasar,
  4. Guru kok istrinya tidak dapat menjadi contoh,
  5. Guru kok anaknya tidak naik kelas,
  6. Guru kok anaknya tidak pandai,
  7. Guru kok tidak bisa ngaji,
  8. Guru kok tidak bisa menjadi pembawa acara,
  9. Guru kok sombong,
  10. Guru kok menipu,
  11. Guru kok tidak dapat dipercaya,
  12. Guru kok rumahnya kotor.

Masih banyak lagi kata-kata sejenis tercacikan kepada seorang guru apabila tidak dapat menjadi panutan. Fakta seperti ini memang sulit untuk diubah, apalagi guru adalah figur keteladanan, guru adalah fugur panutan, guru adalah figur kebenaran. Lahirnya seorang guru adalah lahirnya sosok teladan dan panutan.

Esensi Guru Teladan

Di setiap Kabupaten/Kota di Indonesia, setiap tahunnya diselenggarakan seleksi guru teladan (sekarang dikenal dengan guru berprestasi). Seleksi dilakukan dengan tes tertulis, tes wawancara, dan karya tulis ilmiah. Materi seleksi meliputi ke empat kompetensi guru yakni pedagogis, professional, social, dan kepribadian. Materi pedagogis tidak lain adalah materi yang terkait dengan kompetensi guru dalam mengajar, kompetensi professional terkait dengan kompetensi guru menguasai materi ajar dan karya pengembangan profesinya, materi social dan kepribadian terkait dengan sikap dan peran guru di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Tidak sedikit peserta seleksi guru berprestasi yang mempersiapan dirinya sekitar setangah bulan sebelumnya, bahkan ada yang hanya dalam seminggu. Apa yang dipersiapkan? Tidak lain adalah menyikapi tes yang akan dihadapinya, belajar dan membuat karya tulis. Namun ada juga yang tidak menyediakan waktu khusus untuk mempersiapkannya, yang dipersiapkan hanya persyaratan administrasi pendaftaran saja. Mengapa demikian? Guru yang terakhir ini tentu cenderung telah siap menghadapi tes bentuk apapun. Karya tulispun tentu telah memilikinya, tinggal dipresentasikan. Tetapi guru yang mempersiapkan dengan belajar dan membuat karya tulis, cenderung belum siap. Maka sangat pantas apabila yang terpilih menjadi guru teladan (guru berprestasi) adalah mereka yang tidak mempersiapkan, tetapi yang telah siap segalanya.

Sebutan “guru” itu sendiri sudah bersensikan “teladan”. Maka dapat dibayangkan betapa tinggi derajatnya bagi “seorang guru teladan”. Pasti telah dapat memenuhi bebagai sosok sebagaimana disebutkan di atas. Maka sangat wajar seorang guru teladan tidak lahir begitu saja, tetapi perlu perjuangan yang cukup lama.  Stempel guru teladan tentu telah melekat pada dirinya di manapun dia berada, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Stempel guru teladan ini mestinya tidak karena hasil seleksi formal, namun melalui seleksi alamiah non formal. Siapa yang menyeleksi? Tentu para siswanya, rekan-rekan guru di kantornya ataupun di komunitasnya, dan masyarakat dimana dia tinggal.

Penilaian dari siswa akan baik terhadap guru apabila keempat kompetensi guru tidak hanya dipahami tetapi teraplikasikan dalam kesehariannya. Apabila siswa yang diajar selalu semangat dan dapat menikmati dengan nyaman, maka ini adalah indicator guru tersebut dapat mengaplikasikan ilmu pedagogisnya. Keberhasilan dari sisi profesionalnya tertunjukkan dengan nilai hasil belajar para siswanya yang cenderung selalu mencapai ketuntasan belajar. Tentu penilainnya harus telah sesuai dengan sistem penilaian yang ada dan telah merujuk kepada aturan perundangan yang ada. Dari sisi social dan kepribadian, dia tampil kharismatik, dekat dengan siswa tetapi siswa dan guru terposisikan sebagaimana mestinya. Ababila seorang guru telah terkondisi seperti ini, maka stempel guru teladan dari siswa, tentu telah melekat pada guru tersebut.

Stempel guru teladan dari sisi rekan sejawat di kantornya, maupun di komunitasnya akan terjadi apabila guru tersebut telah menjadi pusat solusi dan pusat inspirasi bagi rekan sekantor dan sekomunitasnya. Sedangkan stempel dari masyarakat akan terjadi apabila di lingkunan dimana dia tinggal, guru tersebut telah dijuliku tokoh masyarakat. Sebutan tokoh oleh masyarakat tentu tidak sembarangan. Dia tentu telah mencapai pada tahapan tertentu di masyarakat. Misal telah berhasil memimpin kampungnya, berhasil menjadi panutan bagi warga di kampunya, dia menjadi pusat informasi, solusi, dan inspirasi bagi masyarakat dimana dia tinggal.

Ketika seorang guru telah mendapat stempel guru teladan dari siswa-siswanya, dari rekan-rekannya, dari komunitasnya, dan dari masyarakat dimana dia tinggal, maka guru inilah  yang telah pantas menyandang guru teladan. Guru yang demikian ini tentu pantas lolos menjadi guru teladan pada seleksi formal yang diselenggarakan oleh lembaga yang relevan, baik Dinas Pendidikan Kabupaaten/Kota, Provinsi, maupun Kementerian Pendidikan Nasional, dan lembaga-lembaga lain yang relevan.

Kesimpulannya adalah:

  1. Menjadi guru teladan perlu perjuangan panjang dan selalu konsisten
  2. Menjadi guru teladan tidak cukup hanya seleksi formal
  3. Menjadi guru teladan perlu diawali oleh penilaian non formal baik oleh siswa-siswanya, rekan sekantornya, maupun oleh komunitasnya.
  4. Guru adalah figur teladan, maka guru teladan adalah teladannya teladan

The Silver is the New Black Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.