SHAMIR'S WEB BLOG

January 2, 2009

Khutbah Jumat 2

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 5:53 pm

Perjuangan Perempuan di Masa Rasulullah: Model Panutan Gerakan Perempuan dalam Islam

Oleh Badriyah Fayumi

 

Ketika perempuan di dunia Islam menggeliat menyuarakan haknya, banyak  orang merasa tersentak, terutama mereka yang selama ini hidup nyaman  dengan sistem patriaki. Yang muncul kemudian adalah resistensi  terhadap segala gerakan yang ditengarai menyuarakan hak-hak perempuan. Dari yang menganggap gerakan itu sebagai adopsi barat, sampai yang menganggap tidak ada dasarnya dalam Islam. Memang, jika kita merunut sejarah Islam sejak zaman klasik sampai  sekarang, gerakan perempuan selalu berhadapan dengan arusan besar yang  tidak menghendaki perubahan akibat gerakan itu. Namun, tidak berarti  bahwa gerakan perempuan dalam Islam tidak ada dan tidak diakui agama.  Teks-teks suci keagamaan menunjukkan bahwa gerakan perempuan, terutama  di awal Islam, memiliki bobot dan pengaruh terhadap rumusan  ajaran-ajaran formal keagamaan pada masa Nabi Muhammad Saw.

Sebenarnya gerakan perempuan sudah ada sejak jaman Rosulullah saw, sebagai rujukan kita dalam menyikapi gerakan perempuan, mengingat

1.         Rasulullah diakui sebagai panutan seluruh umat Islam, baik dalam ucapan, perbuatan, penetapan, sifat maupun sistem nilai yang dibentuknya. Selain itu, generasi sahabat yang hidup semasa Rasulullah  diakui secara aklamasi sebagai generasi Islam terbaik.

2.         Dinamika  gerakan perempuan yang terjadi pada masa sahabat tidak terjadi pada  masa-masa sesudahnya, bahkan ketika peradaban Islam sedang berada di puncak peradaban dunia, di masa Abbasiyah. Barulah pada akhir abad kesembilan belas, ketika Islam menyadari ketertinggalannya, gerakan  perempuan Islam akhirnya muncul. Menyusul kesadaran perlunya kebangkitan Islam pasca kolonialisme.

Gerakan perempuan memiliki pengaruh  langsung terhadap turunnya ajaran-ajaran agama, khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Al-Qur’an menyatakan dengan sangat jelas pengaruh tersebut. Dalam Al-qur’an terdapat beberapa ayat yang mengakomodir aspirasi perempuan yang turun segera setelah ada suaradari perempuan. Sebagai contoh, ayat 35 Surat Al-Ahzab

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Ayat ini  secara imsplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum  perempuan dalam Al-qur’an tidak diungkap sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, ketika Nabi berkhotbah diatas mimbar, Nabi  mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat “Orang-orang Islam  laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.” Demikian disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari hadist riwayat Imam Nasa’i dan Ibnu Jarir Abdul Wahid bin Ziyad.

 

Al-Qur’an juga merekam peristiwa pertikaian pasangan suami-istri Khaulha binti Malik bin Tsa’labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah mengadu kepada Nabi bahwa suaminya telah men-zihar-nya (menyerupakan fisik istri dengan ibunya sehingga si istri menjadi haram digauli oleh suaminya). Setelah zihar itu, sang suami terus memaksanya untuk melakukan hubungan seksual. Namun Khaulah selalu bersikeras menolak dengan berbagai cara, sampai suaminya menjauh dari Khaulah. Mendengar pengakuan itu, Nabi terdiam. Beberapa saat  kemudian, beliau berkata kepada Khaulah yang menolak disetubuhi, sekaligus memberikan penjelasan mengenai hukum suaminya yang men-zihar istrinya. Pembelaan Al-Qur’an kepada perempuan juga spontan turun ketika Abdullah bin Ubayy bin Salul, gembong kaum munafik, mencoba melacurkan Mu’adzah yang hamil. Dan saat melahirkan, anak yang dilahirkan akan ditebus dengan harga mahal oleh Ubbay. Mu’adzah menolak hal tersebut. Nabi memberikan sebuah pembelaan yang sangat jelas terhadap perempuan  seperti Mu’adzah. Bagi perempuan yang dipaksa untuk dilacurkan, Allah secara tegas menyatakan bahwa mereka adalah Maha Pengampun dan Pengasih.

 

Tiga kasus di atas dengan jelas menunjukkan keberanian perempuan menyuarakan haknya telah ada di zaman Nabi. Ummu Salamah memperjuangkan hak istri, sementara Mu’adzah memperjuangkan hak reproduksinya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sekalipun dalam tiga kasus ini mereka kebetulan berbicara sendirian, sesungguhnya mereka menyuarakan suara perempuan secara umum. Yang  perlu kita garis bawahi di sini, keberanian itu muncul kerena iklim sosial yang dibentuk Nabi Saw sangat kondusif terhadap problema perempuan, termasuk hal paling pribadi sekalipun. Kurang lengkap rasanya mengurai perjuangan (baca:gerakan) perempuan Islam masa awal tanpa menyinggung dua peristiwa besar yang menunjukkan  keteguhan dan kemandirian kaum perempuan dalam menentukan sikap hidupnya. Peristiwa itu adalah Bai’at an-Nisa’ (Bai’at keIslaman kaum perempuan) dan Hijrah ke Madinah. Dalam Bai’at an-Nisa, Allah memerintahkan Nabi untuk membai’at dan memintakan ampunan kepada perempuan yang secara sadar datang bersama-sama untuk berbai’at. Untuk menguji kesungguhan kaum perempuan ini, Rasulullah-sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadist sahih berdasarkan kesaksian Umaimah binti Ruqaiqah, salah seorang perempuan Anshar peserta bai’at-mengajukan banyak pertanyaan kepada sekelompok yang hendak berbai’at ini. Peristiwa bai’at ini terekam dengan gamblang dalam  surat al-Mumtahanah ayat 12.

 

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

 

Peristiwa lebih dramatis terjadi juga pada beberapa perempuan yang  secara sadar meninggalkan segala kemewahan hidup dan keluarganya yang masih memusuhi Islam untuk ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi. Menghadapi perempuan teguh seperti ini, lagi-lagi Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk menguji keteguhan imannya. Jika benar-benar bulat tekadnya, maka mereka harus dilindungi dari ancaman dan serangan yang mungkin dilakukan keluarganya. Ummu Habibah, putri Abu Sufyan           pembesar Kuffar Makkah yang kemudian menjadi istri Nabi, merupakan satu  di antara para perempuan yang teguh ini. Perjuangan para perempuan  yang hijrah meninggalkan keluarganya ini diabadikan dalam surat  Al-Mumtahanah ayat 10-12. Ilustrasi di atas menunjukkan, sejak awal perempuan Islam sudah memiliki kesadaran kolektif untuk menyatakan sikap hidupnya, walapun  harus berhadapan dengan risiko besar. Meskipun demikian, kesadaran  kolektif itu belum terjalin dalam sebuah gerakan perempuan yang           sistematis seperti saat ini. Al-Hadis dan Perjuangan Perempuan Meneropong apa yang terjadi dalam  gerakan perempuan Islam dalam sejarah, sangat mustahil jika tidak membuka hadis Nabi. Hadis Nabi merupakan bukti otentik atas dinamika yang terjadi di masa itu, termasuk dinamika gerakan perempuan Islam.  Kalau kita melihat hadis Nabi yang berbicara mengenai perempuan, kita  temukan bahwa sebagian besar hadis muncul karena ada pertanyaan atau kasus yang dialami perempuan. Seperti masalah relasi suami istri, baik relasi seksual maupun relasi keseharian, dan bagaimana peran publik dan sosial perempuan, merupakan beberapa bukti betapa inisiatif dan aspirasi perempuan menjadi sebab utama munculnya hadis-hadis tersebut.

 

Sepintas lalu, proses munculnya ajaran tentang perempuan yang demikian tampaknya meneguhkan anggapan bahwa agama kurang menaruh perhatian pada perempuan. Namun, jika dilihat dari perspektif yang lain, hal itu justru merupakan fakta betapa agama tidak semena-mena dalam memberikan peraturan menyangkut perempuan. Nabi sebagai pembawa risalah sangat menyadari bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang tidak serta merta memahami seluk beluk perempuan. Karenanya, beliau perlu mendengar suara perempuan sebelum memberikan satu keputusan agama. Sikap ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kecenderungan  sebagian ahli agama yang merasa paling tahu dan karenanya merasa paling berhak membuat aturan tentang perempuan. Padahal, kalau           Rasulullah berkenan, dengan mengatas namakan wahyu Tuhan, semua  peraturan bisa dibuat. Namun Rasulullah tidak melakukan hal itu. Rasulullah tidak memonopoli suara perempuan dengan menjadikan agama  sebagai senjata. Sebaliknya, agama ditempatkan Rasulullah sebagai  ruang dialog yang bisa mewadahi aspirasi pemeluknya, tidak terkecuali   kaum perempuan.  Harus diakui, langkah yang ditempuh Nabi ini merupakan apresiasi besar  terhadap keberadaan kaum perempuan. Ini merupakan suatu hal yang luar

biasa, mengingat tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebiasaan mewarisi dan menjadikan perempuan bak barang tinggalan, menguasai sistem sosial yang berlaku saat itu. Sikap Rasulullah yang akomodatif ini membuat sahabiyat (sahabat perempuan Nabi) merasa bebas menyuarakan aspirasinya. Pada gilirannya, situasi ini menyuburkan

gerakan perempuan Islam di masa Nabi Saw. Sejarah mencatat bahwa majlis ta’lim untuk perempuan pada masa Nabi  telah ada. Dan seperti disinggung di atas, alasan terbentuknya majlis  ta’lim ini adalah kebutuhan sahabiyat akan ilmu agama sebagaimana sahabat laki-laki. Mereka meminta Nabi untuk menyediakan waktu khusus untuk perempuan karena merasa perhatian Nabi kepada laki-laki lebih besar daripada kepada mereka. Nabi langsung menyetujui keinginan itu. Persamaan keinginan untuk belajar ini pada gilirannya membuat sahabiyat memiliki semacam komunitas bersama. Tercatatlah nama Asma’  binti Yazid, seorang sahabiyat cerdas yang diangkat menjadi juru bicara para sahabiyat. Suatu kali di hadapan para sahabat laki-laki, Rasulullah memuji kemampuan Asma’ ini. Lagi-lagi tema yang diangkat dan mendatangkan pujian nabi ini mengenai persamaan hak perempuan dan laki-laki. Pertanyaan Asma’ di atas adalah persoalan kolektif yang dikemukakan secara kolektif pula. Sahabiyat biasa mengajukan pertanyaan dan mengadukan persoalan mereka di masjid atau dalam suatu forum terbuka.          Ini merupakan salah satu cara sahabiyat menyampaikan aspirasi  perempuan. Cara lain adalah langsung bertanya kepada Nabi secara  pribadi, sesekali juga melalui istri Nabi. Pertanyaan langsung secara  pribadi pada Nabi umumnya dilakukan sahabiyat jika persoalannya  bersifat spesifik, seperti istihadhah atau menyangkut relasi suami istri. Menyampaikan aspirasi, baik yang bersifat memperjuangkan hak perempuan atau mencari tahu ajaran agama menjadi tradisi yang tumbuh subur di kalangan sahabiyat, terutama di kalangan Anshar. Tidak heran jika  Ummul Mukminin Aisyiah r.a memuji sikap perempuan Anshar yang tidak dihalangi rasa malu dalam tafaqquh fiddin. Imam Bukhari mengabadikan  pujian Aisyiah menjadi judul bab dalam salah satu bahasan tentang ilmu  dalam kitab Sahih Bukhari-nya. Sementara Imam Muslim menyitir pernyataan itu dalam suatu hadis mauquf dalam Sahih Muslim-nya.

 

Catatan Penutup

Apa yang dipaparkan ini sesungguhnya belum merekam seluruh peristiwa yang bisa kita sebut sebagai gerakan perempuan Islam di masa awal. Namun demikian, dari berbagai peristiwa dan catatan sejarah yang  terekam dalam al-qur’an dan Al-hadis, kita dapat melihat kecenderungan  umum yang sangat menarik. Baik dari sudut perempuan selaku komunitas  yang memperjuangkan haknya, maupun dari sudut Nabi selaku pemegang otoritas keagamaan dan kemasyarakatan. Dari sudut perempuan, tampak  jelas bahwa hak-hak perempuan itu ada, baik secara kolektif maupun  pribadi. Tanpa itu, sangat mungkin aspirasi perempuan tak terwadahi karena pemegang otoritas kebetulan seorang laki-laki. Dari sudut Nabi, beliau telah memberikan contoh yang sangat ideal mengenai bagaimana  seharusnya seorang laki-laki pemegang otoritas mewadahi aspirasi perempuan. Dalam kedudukannya sebagai Nabi yang punya hak penuh mengatur ummatnya, Muhammad Saw tidak semena-mena membuat aturan mengenai perempuan dengan mengatasnamakan agama tanpa memperhatikan sungguh-sungguh aspirasi kaum perempuan. Konfigurasi dari dua sisi yang saling mengisi itupun kemudian membuka kemungkinan perempuan  untuk menyuarakan aspirasi kaumnya. Jika sahabat yang merupakan contoh terbaik generasi Islam saja tidak ragu-ragu memperjuangkan hak dan aspirasi mereka, layakkah kita yang hidup di era modern ini tidak berani menyuarakan hak dan aspirasi kita dalam sebuah wadah besar yang bernama gerakan perempuan?

          

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ          

        

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: