SHAMIR'S WEB BLOG

January 2, 2009

Khutbah Jumat 3

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 5:59 pm

ALLAH SELALU MEMANGGIL KITA

 

Seringkah kita dihampiri pertanyaan-pertanyaan klasik seperti : 

  1. Apa makna hidup saya?
  2. Kenapa hidup saya terasa hambar, hanya berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode senang dan sedih?
  3. Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya? Mengapa hidup seperti monoton, hanya itu itu saja yang saya lakukan? Apa tidak ada pola kehidupan yang variatif? Yang menyenangkan setiap saat?

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Sekolah, mengejar ekonomi dan karier, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun, sebagai sebuah rutinitas yang monoton. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita juga mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.

Kita memang diciptakan untuk beribadah. Setiap hari kita sholat, mengaji, dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. Namun kadang kita tidak menyadari kalau yang kita lakukan tidak kita sadari, hanya semacam rutinitas yang tidak bermakna.

 

Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini.Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah? Percayalah bahwa Allah akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya. Sinyal-sinyal ghaib sebenarnya juga disampaikan kepada kita, kita akan mengalami apa setelah ini, kita akan mendaptkan apa setelah ini, kita harus kemana setelah ini, meskipun tidak setiap orang peka dan dapat menangkap sinyal itu. Ingat Allah maha pengasih, maha bijaksana, maha memberi.

Seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu.  Seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan. Bentuk  ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari hakekat hidup, termasuk para Nabi. Nabi Ibrahim misalnya yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), terabasikan  dalam QS 6:74-79

 

 

 

 

 

 

 

1.       Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

2.       Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.

3.       Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

4.       Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

5.       Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

6.       Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ          

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: