SHAMIR'S WEB BLOG

January 11, 2009

7. MANUSIA ITU LEMAH BERARTIKAH?

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — Tags: — samiranshamir @ 4:30 pm

MANUSIA ITU LEMAH

BERARTIKAH?

Kalau kita renungkan, negara kita akhir-akhir ini seperti tidak pernah ada kenyamanan sama sekali. Bencana alam begitu mudahnya muncul di bumi Indonesia ini. Taruhlah kita berangkat dari sunami di Aceh yang meluluh lantakkan serambi mekah itu. Ratusan ribu manusia seperti sampah yang tak berdaya, begitu mudah tertelan ombak. Semua tumbuhan dan bangunan rata bahkan seperti padang tanah, tak ada barang tersisa. Semua seperti samudra lumpur. Bahkan ada subuah kabupaten yang hanya tinggal 15% penduduknya. Gempa bumi jogya yang hanya beberapa menit saja telah menghilangkan ribuan nyawa manusia. Banjir lumpur yang telah 3 tahunan tidak kunjung berhenti, sekitar 5 kecamatan seolah hilang, yang ada hanyalah lautan lumpur. Berbagai upaya dilakukan, berbagai temuan teknologi diteparkan, namun hingga kini tidak ada tanda-tanda akan berhenti, bahkan bebarapa ahli mengatakan bahwa banjir lumpur setidaknya akan berlangsung sekitar 10 tahun ke depan. Banjir dimana-mana, kebakaran hutan tak kunjung berhenti, Begitu banyaknya bencana di tanah air ini, hingga kita seolah tidak dapat menyebutnya satu demi satu. Kita tinggal di dataran rendah, banjir tiada putus. Didataran tinggi, tanah longsong menghadang. Alam seolah sedang menunjukkan bahwa betapa kuatnya dia, betapa saktinya dia, betapa berkuasanya dia. Lalu ada apa dengan manusia? Bukankah manusia pandai, berilmu dan berteknologi, serba bisa, kuasa akan alam ini? Ternyata terbukti bahwa manusia sangat lemah, bahkan terkesan teramat sangat lemah dibandingkan kekuatan alam ini.

Yang pasti setiap manusia terlahir ke bumi sebenarnya tanpa tahu siapa dirinya, dan siapa pula bumi yang dihuninya, apalagi jagat raya yang melingkupinya maha luas.  Jagat raya ini berisi sekitar 300 miliar galaksi. Galaksi adalah kumpulan bintang dan benda langit yang setiap galaksai jumlahnya ratusan milyard bintang. Salah satu dari galaksi ini adalah Galaksi Bima Sakti, yang terdiri atas sekitar 250 miliar bintang. Matahari kita hanyalah salah satu dari 250 milyard bintang yang ada di galaksai bima sakti ini. Matahari dikategorikan sebagai bintang kecil jenis G.(lalu bagaimana bintang yang lebih besar?) Matahari dipercayai terbentuk pada 4,6 miliar tahun lalu dari serpihan material ledakan bintang generasi pertama seperti yang diyakini oleh ilmuwan, bahwasanya alam semesta ini terbentuk oleh ledakan big bang sekitar 14.000 juta tahun lalu. Jika kita bandingkan dengan butiran pasir di seluruh pantai di bumi masih lebih banyak bintang di jagat raya, dan Matahari kita hanyalah salah satu butiran pasir ini. Bumi tempat tinggal kita tidaklah lebih besar dari sebutir pasir tersebut. Perbandingan diameter matahari dengan bumi adalah 9 : 1000.  Jadi apabila matahari saja digambarkan sebutir pasir, lalu bumi seberapa. Seperseratus dari besarnya butir pasir.

Lalu bagiamana dengan manusia, makhluk kecil penghuni bumi ini, seolah ia bukanlah apa-apa di dalam jagat raya yang mahaluas ini.

Dari segi ukurannya, manusia bak sebutir debu di padang pasir nan luas, sesuatu yang tak berarti dalam alam semesta tak bertepi. Dilihat dari kekuatannya, manusia pun makhluk yang teramat lemah, jaauuh lebih lemah dari kekuatan alam ini. Dari virus tak kasat mata yang mampu menjadikannya sakit tak berdaya; hingga hujan, gunung dan gempa bumi yang dapat melenyapkannya dari muka bumi. Begitulah, kehidupan manusia seolah tak berarti jika dilihat dari ukuran dan kekuatannya, dibandingkan dengan ukuran alam semesta dan kedahsyatan peristiwa alam.

Namun, benarkah hidup manusia tanpa arti? Jika makna hidup memang tiada, mengapa manusia perlu ada? Jika mata yang melihat pemandangan, telinga yang mendengar suara, lidah yang mengecap rasa, dan kulit yang meraba benda ini tidak memiliki makna apa pun, lalu untuk apa semua ini ada? Mengapa manusia mesti hidup di muka bumi jikalau pada akhirnya semua mereka kan pasti sirna, terhempaskan oleh penyakit mematikan, usia senja, kecelakaan, gempa bumi, letusan gunung, serta dahsyatnya kekuatan alam lainnya yang menerpa mereka? Mengapa manusia mesti hadir di dunia, mengapa mereka mesti hidup, menderita, tertawa, bahagia, dan akhirnya harus mati…??? Apakah semua ini ada artinya ???

Nampaknya, semua ini nyaris tanpa arti jika kita pahami sebatas pada ukuran dan kekuatan manusia, sebab banyak makhluk atau benda di alam ini yang jauh lebih besar dan jauh lebih dahsyat dari manusia. Namun sesuatu benda telah memiliki arti karena keberadaannya, sebab untuk apa menanyakan makna atau arti sesuatu yang tidak pernah ada? Ketika arti keberadaan sesuatu telah kita pahami, maka ukuran, kekuatan, kedahsyatan dan segala ciri yang lain pun akan tampak bermakna di hadapan kita. Begitulah, keberadaan manusia memunculkan makna keberadaan serta kehidupan manusia itu sendiri. Sebagaimana keberadaan alam semesta beserta segala isi dan kedahsyatannya yang pastilah mendorong kita juga bertanya akan arti keberadaannya.

Yang pasti, kesempurnaan dan kehebatan seluruh makhluk hidup dan tak hidup di alam ini mengatakan kepada akal dan hati nurani manusia akan satu hal: semua diciptakan dengan tujuan yang pasti dan benar. Dan tujuan itu adalah agar manusia yang berakal dan bernurani ini mampu menyibak misteri alam, termasuk dirinya sendiri. Menguak kesempurnaan, keajaiban, kehebatan, kekuatan, dan kedahsyatan fenomena alam hingga terpampang di pelupuk matanya suatu kebenaran yang pasti, yakni bahwa semua ini ada karena diciptakan dengan makna dan tujuan yang pasti; hingga tersingkaplah kabut kebodohan dan kejumudan yang selama ini menutup mata hatinya, sehingga ia dengan jelas mampu menatap keberadaan singgasana sang Pencipta. Dialah Allah, Penguasa dan Pemilik Kekuatan di balik keajaiban dan kedahsyatan fenomena alam ini, yang semuanya diciptakan-Nya agar manusia mampu mengenal keberadaan dan sifat-sifat-Nya. Lebih dari itu, alam ini dicipta agar manusia senantiasa mengingat akan keagungan Pencipta-Nya dan kelemahan dirinya; agar menjadi sarana yang menjadikannya hamba yang bertaqwa. QS. Al Mu’minuun, 23:84-87

84. Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

85. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

86. Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?”

87. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

Ya Allah, Jadikan mataku ini sebagai mata yang tidak membutakan mata hati kami, jadikan metaku ini sebagai mata yang selalu sanggup melihat ayat-ayatmu

Jadikan lisan ini menjadi lisan yang tepelihara jangan biarkan mulut ini sebagai sumber fitnah, yang akan menimbulkan perpecahan di antara kami. Jadikan mulut ini hanya berucap kata-kata yang engkau ridha

Jadikan kening kami yang selalu nikmat bersujud, jangan biarkan kening kami ini menjadi sia sia tanpa pernah bersujud kepadaMu ya Allah.

Jadikan tangan kami tangan yang selalu senang menolong, yang kuat yang dapat menolak kebatilan dan yang menolak kemurkaan

Jadikan kaki kami ini senang berjalan menuju tempat-tempat yang engkau sucikan dan engkau senangi, jangan biarkan kaki ini melangkah ke tempat-tempat yang penuh maksiat. Wahai yang maha mendengar, yang maha tahu segala isi hati, jadikan hati ini hati yang tidak gentar mengahadapai apapun, berikan hati kami menjadi rindu akan pertemuan denganmu, rindu untuk bertemu denga rosul2mu.

Wahai Yang maha dekat, segala yang ada di bumi ini adalah milikmu, segala yang ada di bumi ini ada dalam genggamanmu. Kedahsyatan alam adalah milikmu, fenomena alam adalah kehendakmu, bencana alam adalah hakmu.

Jadikan hidup dan mati kami hanya kepadamu ya Allah. Ampuni kami adai kami selama ini selalu melupakanMu, Ampuni dosa yang terang terangan kami perbuat, juga yang sembunyi sembunyi kami lakukan, juga ketika kami selalu berbutuk sangka kepadamu.

Bimbing kami agar setiap detak nafas kami menyempurnakan ihtiar di jalan yang engkau ridhai. Kami adalah lemah, kami adalah bodoh, kami tidak dapat memperoleh percikan ilmumu kecuali atas pertolongan dan kehendakmu. Jadikan kami senang mencari ilmuMu, karena ilmu adalah pelita hati, karena ilmu yang akan membimbing kami ke arah jalan yang engakau ridha

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: