SHAMIR'S WEB BLOG

April 14, 2010

MIR Mengatasi Pendidikan di Indonesia

Filed under: Pendidikan — samiranshamir @ 1:10 am

Pendidikan di Indonesia, dapat dikatakan “selalu memakan korban kebingungan para orang tua”, yang pada tahun ajaran baru harus memasukkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Betapa tidak? Sekolah di Indonesia masih mendewakan kecerdasan kognitif (maksudnya IQ), yang ukurannya dilihat dari perolehan nilai hasil Ujian Nasional (UN). Sekolah-sekolah yang dianggap favorit selalu diserbu anak-anak yang nilai UN-nya tinggi, sedangkan sekolah “pinggiran” meskipun terletak di tengah kota, justru kekurangan pendaftar. Ketika seleksi diadakan, baik berbasis jumlah nilai UN maupun (katanya) “tes potensi akademik” yang diselenggarakan sekolah tersebut, namun kecenderungannya adalah memilih calon siswa yang kecerdasan IQ nya tinggi. Apabila seperti ini yang terjadi, bagaimana dengan nasib anak yang ranah kognitifnya cenderung jelek tapi tinggi di bidang yang lain? misal di ranah linguistik, visual spasial, musikal, kinestetis, interpersonal, intrapersonal dan naturalis? mereka seolah tidak punya tempat. Padahan dengan mengetahui keunggulan anak pada ranah tertentu, ditunjang stategi mengajar guru yang disesuaikan dengan karakter belajar anak (sesuai keunggulannya), maka tingkat keberhasilan anak dalam belajar relatif sama. Karena itulah Howard Gardner mengatakan tidak ada anak yang bodoh. Tinggal bagaimana strategi mengajar guru yang harus menyesuaikan dengan karakter belajar anak sehingga proses belajar anak menjadi maksimal, hasil belajar anak menjadi optimal. Anak-anak yang tidak unggul di ranah kognitif, tetapi unggul di ranah yang lain, pada sistem pendidikan yang diberlakukan sekarang ini di Indonesia, cenderung terbelenggu. Mereka dicap sebagai orang/anak bodoh, yang dipinggirkan. Merekapun menjadi cenderung menilai dirinya tidak berguna, kurang punya masa depan, minder, dan sebagainya. Apa pendidikan model ini akan tetap dipertahankan Mudah-mudahan Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, mendengar dan mencermati teori Multiple Intelligence dari Howard Gardner, yang tidak pernah melihat ada anak bodoh. Semua anak adalah pandai, sehingga proses penerimaan peserta didik (PPD)pun ke depan tidak berbasis UN tetapi berbasisi “urutan mendaftar”, dengan konsekwensi semua calon siswa dianggap mempunyai peluang yang sama untuk berhasil, meskipun harus memanage guru untuk menjadi agen perubahan dan agen pembelajaran yang menyenangkan bagi siswanya. Agar guru dapat mengetahui karakter belajar anak yang mempunyai keunggulan di rahah tertentu yang berbeda-beda, maka di awal tahun sekolah perlu menyelenggarakan Multiple Intelligence Research (MIR). Hasil MIR ini juga digunakan untuk mengelopokan siswa masuk kelas A, B, C, dan sebagainya, Jadi pembagian kelas tidak didasarkan atas nilai UN dari mereka tetapi berdasarkan kesamaan karakter belajar siswa.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: