SHAMIR'S WEB BLOG

September 6, 2018

kisah seoraang tukang kayu

Filed under: Artikel — samiranshamir @ 6:10 pm

Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya. Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati. Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, “Kerjakanlah dengan yangterbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada.” Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya. Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan. Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana. Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu.Masa depanmu adalalah hasil dari keputusanmu saat ini.

Disadur dari Anne Ahira (www.AnneAhiraNewsletter.com)

Kesempurnaan

Filed under: Uncategorized — samiranshamir @ 6:06 pm

Suatu hari seorang santri bertanya kepada sang Guru

Santri :”Guru, bagaimana caranya untuk mendapatkan kesempurnaan dalam hidup ini?”.

Guru menjawab

Guru : “di kebun bunga ini terdapat satu jalan yang lurus. Berjalanlah kamu menuruti jalan itu, jangan berbalik arah, lalu petiklah satu yang terindah, bawalah ke hadapanku”.

Murid pun menyusuri jalan itu dan mencari bunga yang terindah pada kebun bunga itu. Setelah menelusuri jalan di kebun bunga itu, Muridpun menemui sang Guru. Bertanya Guru

Guru : “mana bunga yang kau pilih, kok gak memetik satupun?”.

Murid menjawab

Murid : “sebenarnya di jalan tadi saya telah menemukan bunga yang sangat indah tetapi saya berfikir di ujung masih ada yang lebih indah, ternyata tidak saya temukan, padahal saya tidak diperbolehkan berjalan membalik”. Guru pun berkata.

Guru : “Itulah hidup. Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin kita tidak akan mendapatkannya. Karena kesempurnaan tidak ada di dunia ini, yang ada hanyalah keikhlasan hati untuk menerima kekurangan dan berusaha keras untuk memperbaikinya. maka nikmati dan syukurilah yang ada sekarang ini”

bila kita tidak kuasa memberi, janganlah kita mengambil
bila kita terlalu berat untuk mengasihi, janganlah kita membencinya
bila kita tak mampu membuat senang orang lain, janganlah kita membuatnya sedih.
bila kita tak mampu menolong orang lain, janganlah kita mencelakainya
bila kita tak mampu memuji, janganlah menghujat.
bila kita tak mampu menghargai, janganlah menghina.
Janganlah mencari kesempurnaan, tetapi sempurnakanlah yang telah ada pada kita

December 4, 2013

Workshop pendampingan implementasi kurikulum 2013

Filed under: Uncategorized — samiranshamir @ 5:53 pm

Workshop pendampingan implementasi kurikulum 2013
(more…)

https://www.facebook.com/notes/samir-semar/pendidikan-indonesia-masih-membuat-bingung-orang-tua/383540973251

Filed under: Uncategorized — samiranshamir @ 5:41 pm

https://www.facebook.com/notes/samir-semar/pendidikan-indonesia-masih-membuat-bingung-orang-tua/383540973251

September 23, 2012

tes online

Filed under: Uncategorized — samiranshamir @ 2:48 am

<div style=’font-size:10px; font-family:Arial, Helvetica, sans-serif; color:#000;’><a href=’http://www.proprofs.com/quiz-school/story.php?title=tes-online-geometri_22&#8242; target=’_blank’ title=’TES ONLINE GEOMETRI’>TES ONLINE GEOMETRI</a> &raquo; <a href=’http://www.proprofs.com/quiz-school/&#8217; title=’test maker’ target=’_blank’>test maker</a></div>

May 20, 2011

ESENSI GURU TELADAN

Filed under: Artikel — Tags: — samiranshamir @ 6:31 am

ESENSI GURU TELADAN

Citra Seorang Guru

Ketika nama Guru disebut, yang tergambar adalah sosok tokoh, sosok teladan, sosok panutan, sosok serba bisa, sosok pamomong, sosok orang disiplin, sosok orang kharismatik, dan sejumlah sosok yang lain, yang intinya adalah taladan dan panutan.  Maka sangat wajar apabila guru di stiap tempat terposisikan pada posisi yang cukup terhormat. Di kampung, banyak yang menjadi ketua RT, ketua RW, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), atau Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Pengurus Takmir Masjid, dan lembaga kemasyarakatan yang lain. Image seperti ini memang membanggakan, meskipun juga sekaligus beban berat bagi pelakunya. Membanggakan karena terposisikan di tempat yang cukup tinggi dan terhormat. Beban berat, karena kebabasan guru menjadi sangat terebatasi. Apabila ada guru di kampung yang tidak dapat menjalankan amanat masyarakat menduduki jabatan-jabatan tersebut, maka guru tersebut cenderung menempati posisi yang amat rendah di masyarakat. Apabila guru di kampung kok perbuatannya tidak terpuji, maka posisi guru tersebut pun menjadi sangat rencah. Tentu cenderung muncul komentar minir apabila seorang guru tidak dapat menjadi contoh dan teladan di mana dia tinggal. Ucapan-ucapan minir pun segera terlontar. Kata-kata berikut sering terloncar di masyarakat:

  1. Guru kok tidak disiplin,
  2. Guru kok pakaiannya tidak sopan,
  3. Guru kok omongannya kasar,
  4. Guru kok istrinya tidak dapat menjadi contoh,
  5. Guru kok anaknya tidak naik kelas,
  6. Guru kok anaknya tidak pandai,
  7. Guru kok tidak bisa ngaji,
  8. Guru kok tidak bisa menjadi pembawa acara,
  9. Guru kok sombong,
  10. Guru kok menipu,
  11. Guru kok tidak dapat dipercaya,
  12. Guru kok rumahnya kotor.

Masih banyak lagi kata-kata sejenis tercacikan kepada seorang guru apabila tidak dapat menjadi panutan. Fakta seperti ini memang sulit untuk diubah, apalagi guru adalah figur keteladanan, guru adalah fugur panutan, guru adalah figur kebenaran. Lahirnya seorang guru adalah lahirnya sosok teladan dan panutan.

Esensi Guru Teladan

Di setiap Kabupaten/Kota di Indonesia, setiap tahunnya diselenggarakan seleksi guru teladan (sekarang dikenal dengan guru berprestasi). Seleksi dilakukan dengan tes tertulis, tes wawancara, dan karya tulis ilmiah. Materi seleksi meliputi ke empat kompetensi guru yakni pedagogis, professional, social, dan kepribadian. Materi pedagogis tidak lain adalah materi yang terkait dengan kompetensi guru dalam mengajar, kompetensi professional terkait dengan kompetensi guru menguasai materi ajar dan karya pengembangan profesinya, materi social dan kepribadian terkait dengan sikap dan peran guru di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Tidak sedikit peserta seleksi guru berprestasi yang mempersiapan dirinya sekitar setangah bulan sebelumnya, bahkan ada yang hanya dalam seminggu. Apa yang dipersiapkan? Tidak lain adalah menyikapi tes yang akan dihadapinya, belajar dan membuat karya tulis. Namun ada juga yang tidak menyediakan waktu khusus untuk mempersiapkannya, yang dipersiapkan hanya persyaratan administrasi pendaftaran saja. Mengapa demikian? Guru yang terakhir ini tentu cenderung telah siap menghadapi tes bentuk apapun. Karya tulispun tentu telah memilikinya, tinggal dipresentasikan. Tetapi guru yang mempersiapkan dengan belajar dan membuat karya tulis, cenderung belum siap. Maka sangat pantas apabila yang terpilih menjadi guru teladan (guru berprestasi) adalah mereka yang tidak mempersiapkan, tetapi yang telah siap segalanya.

Sebutan “guru” itu sendiri sudah bersensikan “teladan”. Maka dapat dibayangkan betapa tinggi derajatnya bagi “seorang guru teladan”. Pasti telah dapat memenuhi bebagai sosok sebagaimana disebutkan di atas. Maka sangat wajar seorang guru teladan tidak lahir begitu saja, tetapi perlu perjuangan yang cukup lama.  Stempel guru teladan tentu telah melekat pada dirinya di manapun dia berada, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Stempel guru teladan ini mestinya tidak karena hasil seleksi formal, namun melalui seleksi alamiah non formal. Siapa yang menyeleksi? Tentu para siswanya, rekan-rekan guru di kantornya ataupun di komunitasnya, dan masyarakat dimana dia tinggal.

Penilaian dari siswa akan baik terhadap guru apabila keempat kompetensi guru tidak hanya dipahami tetapi teraplikasikan dalam kesehariannya. Apabila siswa yang diajar selalu semangat dan dapat menikmati dengan nyaman, maka ini adalah indicator guru tersebut dapat mengaplikasikan ilmu pedagogisnya. Keberhasilan dari sisi profesionalnya tertunjukkan dengan nilai hasil belajar para siswanya yang cenderung selalu mencapai ketuntasan belajar. Tentu penilainnya harus telah sesuai dengan sistem penilaian yang ada dan telah merujuk kepada aturan perundangan yang ada. Dari sisi social dan kepribadian, dia tampil kharismatik, dekat dengan siswa tetapi siswa dan guru terposisikan sebagaimana mestinya. Ababila seorang guru telah terkondisi seperti ini, maka stempel guru teladan dari siswa, tentu telah melekat pada guru tersebut.

Stempel guru teladan dari sisi rekan sejawat di kantornya, maupun di komunitasnya akan terjadi apabila guru tersebut telah menjadi pusat solusi dan pusat inspirasi bagi rekan sekantor dan sekomunitasnya. Sedangkan stempel dari masyarakat akan terjadi apabila di lingkunan dimana dia tinggal, guru tersebut telah dijuliku tokoh masyarakat. Sebutan tokoh oleh masyarakat tentu tidak sembarangan. Dia tentu telah mencapai pada tahapan tertentu di masyarakat. Misal telah berhasil memimpin kampungnya, berhasil menjadi panutan bagi warga di kampunya, dia menjadi pusat informasi, solusi, dan inspirasi bagi masyarakat dimana dia tinggal.

Ketika seorang guru telah mendapat stempel guru teladan dari siswa-siswanya, dari rekan-rekannya, dari komunitasnya, dan dari masyarakat dimana dia tinggal, maka guru inilah  yang telah pantas menyandang guru teladan. Guru yang demikian ini tentu pantas lolos menjadi guru teladan pada seleksi formal yang diselenggarakan oleh lembaga yang relevan, baik Dinas Pendidikan Kabupaaten/Kota, Provinsi, maupun Kementerian Pendidikan Nasional, dan lembaga-lembaga lain yang relevan.

Kesimpulannya adalah:

  1. Menjadi guru teladan perlu perjuangan panjang dan selalu konsisten
  2. Menjadi guru teladan tidak cukup hanya seleksi formal
  3. Menjadi guru teladan perlu diawali oleh penilaian non formal baik oleh siswa-siswanya, rekan sekantornya, maupun oleh komunitasnya.
  4. Guru adalah figur teladan, maka guru teladan adalah teladannya teladan

January 17, 2011

Pengangkatan Kaur Desa yang Kontroversi (Catatan dari Kebumen)

Filed under: Informasi — samiranshamir @ 8:08 am

Liburan Sekolah kemaren saya jalan-jalan ke daerah Kebumen, bersama keluarga dan menginap di sebuah desa tempat saya lahir. Kebetulan di desa tersebut baru saja dilaksanakan seleksi calon Kaur (kepala urusan) pemerintahan dan telah ada pengumuman siapa yang lolos dan jadi, sehubungan dengan dia telah memenuhi syarat sebagaimana Peraturan Bupati Kebumen no 7 tahun 2007 tentang “TATA CARA PENCALONAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA”, Namun dari kacamata seorang yang biasa membuat penilaian di institusi pendidikan, nampaknya ada kejanggalan dalam menentukan peringkat. Kebetulan saya sempat diberi dan membaca serta mencermati hasil penilaian panitia, yang dapat saya catat seperti berikut:(nama peserta seleksi sebut saja A, B, C, D, E, F)

  1. Nilai A : praktik komputer 4,85     Pidato 7,0  tertulis 49, maka jumlah nilai 60,875
  2. Nilai B : praktik komputer 4,375   Pidato 8,3  tertulis 56, maka jumlah nilai 68,675
  3. Nilai C : praktik komputer 7,250   Pidato 7,3  tertulis 53, maka jumlah nilai 67,550
  4. Nilai D : praktik komputer 8,250   Pidato 8,8  tertulis 54, maka jumlah nilai 71,050
  5. Nilai E : praktik komputer 2,125   Pidato 5,1  tertulis 43, maka jumlah nilai 50,225
  6. Nilai F : praktik komputer 4,125   Pidato 7,1  tertulis 60, maka jumlah nilai 71,225

Dari data di atas, jelas yang peringkat satu dan calon jadi adalah F, karena jumlah nilainya paling tinggi. Namun kalau saya amati dan cermati, nampaknya ada kejanggalan dalam penilaian. penilaian praktik komputer dan pidato menggunakan rentang 0 s.d. 10, sementara nilai tertulis menggunakan rentang 0 s.d 100. Andaikan nilai tertulis juga menggunakan rentang nilai 0 s.d. 10, tentu hasil akan berbeda. Apalagi antara B, D, dan F, perbedaannya sangat kecil.   apabila nilai tertulis diconversi ke rentang 0 s.d. 10, maka hasil akhir adalah A : 16,75 B : 18,275 C : 19,85 D : 22,45 E : 11,525 F : 17,225 Maka urutan peringkatnya adalah D, C, B, F, A, E,  dan yang peringkat satu dan jadi mestinya D. Apabla nilai tertulis bobotnya dibuat 2, sedangkan Komputer dan pidato berbobot 1 maka hasil akhirnya adalah: A : 21,65 B : 23,875 C : 25,15 D : 27,85 E : 15,825 F : 23,225 Maka urutan peringkatnya adalah D, C, B, F, A, E, dan yang peringkat satu dan jadi mestinya D Apabila nilai tertulis bobotnya dibuat 5, sedangkan Komputer dan pidato berbobot 1 maka hasil akhirnya adalah A : 36,35 B : 40,675 C : 41,05 D : 44,05 E : 28,725 F : 41,225 Maka urutan peringkatnya adalah D, F, C, B, A, E, dan yang peringkat satu dan jadi mestinya D Ketika perbandingan bobot nilai tertulis sudah dibuat sangat besar (yakni 5, sementara yang lain 1) untuk ukuran norma penilaian pun, D masih tetap peringkat I, dan terpautnya cukup jauh dengan peringkat II dan III. Namun sangat ironis ketika diumumkan kok yang peringkat I justru yang F, sehingga yang dilantik sebagai Kaur pun F. Sekarang adalah era komputer yang notabene dasar dari penguasaan teknologi informasi, kecenderungannya sangat sulit, orang dengan nilai komputer 4,125 mengalahkan orang yang nilainya 8,250. Pertanyaan besar sekarang adalah: Ada apa dengan F Kalau dikaitkan dengan Peraturan Bupati Kebumen no 7 tahun 2007 tentang “TATA CARA PENCALONAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA”, Pasal 4 menyebutkan bahwa:

  1. (ayat 1) Pengisian Perangkat Desa Lainnya ditempuh melalui pengangkatan setelah diilakukan penjaringan dan penyaringan oleh Panitia Pelaksana Pengisian Perangkat Desa Lainnya.
  2. (ayat 4) Panitia Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh mempunyai pertalian keluarga sedarah dan keluarga semenda dengan Bakal Calon Perangkat Desa Lainnya sampai dengan derajat kesatu.
  3. (ayat 5) Untuk membantu kelancaran pelaksanaan pengisian Perangkat Desa Lainnya, Bupati membentuk Panitia Pengarah dan Pengawas Pengisian Perangkat Desa Lainnya.

Pasal 5 ayat 3 Panitia Pelaksana Pengisian Perangkat Desa Lainnya mempunyai tugas

  1. huruf e : menyusun naskah ujian tertulis, wawancara dan/atau praktek
  2. huruf f : melaksanakan ujian tertulis, wawancara dan/atau praktek

Pasal 5 ayat 5 huruf b menyatatakan bahwa : Panitia Pelaksana Pengisian Perangkat Desa Lainnya berkewajiban memperlakukan Bakal Calon Perangkat Desa Lainnya secara adil dan setara; Timbul pertanyaan lagi

  1. Ada apa dengan F
  2. Ada apa dengan Panitia
  3. Apakah Panitia Pengarah dan Pengawas bentukan Bupati Kebumen kecolongan? Atau

Apabila memang penilaian pada seleksi Kaur Pemerintahan di desa tersebut keliru, masih ada waktu untuk merevisi. Apabila yang harus jadi memang yang bernama D, masih ada waktu untuk merevisi juga, meskipun sudah ditetapkan, UUD 45 saja bisa diamandemen kan? Tulisan ini hanyalah sebatas “ngudo roso” dari seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Semangatnya adalah ingin memberi masukan dan kritikan kepada pihak-pihak yang terkait untuk hati-hati kalau melakukan kerja yang berkaitan dengan kepentingan hidup orang lain. Terutama kepada Pemda Kabupaten Kebumen, tempat saya lahir, daerah yang saya cintai, daerah yang tidak mungkin saya lupakan hingga kapanpun, untuk lebih cermat dalam melakukan monitoring dan pengawasan di aspek manapun, dengan harapan Kabupaten Kebumen tetap kabupaten tempatnya para santri, yang salalu mengepankan pengamalan Islam secara total, demi kejayaan Kebumen, kini dan masa datang, jauh dari praktik money politic, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Mohon maaf apabila tulisan ini menggau pihak-pihak tertentu. Catatan:

  1. Kebetulan penulis menyimpan lembar daftar nilai peserta ujian kaur pemerintahan yang asli dari salah satu desa di Kecamatan Kuwarasan, yang ditandatangani Ketua Panitia tanggal 25 Oktober 2010.
  2. A, B, C, D, E, dan F adalah nama samaran, karena memang peserta seleksi berjumlah 6 orang
  3. Kebetulan, penulis biasa membuat nilai pada para peserta didik, sehingga ketika ada penilaian yang dirasa tidak biasa, ingin mengkritisi.

August 14, 2010

Khutbah Jumat 15

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — samiranshamir @ 4:23 am

(more…)

Khutbah Jumat 14

Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — samiranshamir @ 2:23 am

ISRA MIKRAJ NABI MUHAMMAD SAW DARI SISI SAIN

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1)

Dalam tinjauan Agus Mustofa (2006:11), setidak-tidaknya ada delapan kata kunci yang menjadi catatan penting dan menuntut pemahaman kita menembus batas-batas langit untuk menafsir perjalanan kontroversial ini. Baiklah, jika kita mencoba untuk menguraikan makna kata-kata tersebut, maka akan menjadi seperti ini:

Catatan pertama, terdapat pada akata Subhanallah, Maha Suci Allah. Hal ini mengisyaratkan bahwa persitiwa ini sangat luar biasa. Saking spesialnya kejadian ini, Allah sendiri memuji diri-Nya dengan ucapan Subhanallah. Barangkali inilah salah satu bukti bahwa Allah adalah Maha dari segala Maha. Maha tanpa batasan ruang, waktu, bahkan massa. Sehingga lanjut Quraish Shihab (1992:338), peristiwa ini membuktikan bahwa ‘ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas ruang dan waktu.

Catatan kedua, adalah dalam kata asraa, yang telah memperjalankan. Ini berarti bahwa perjalanan Isra Mi’raj bukan atas kehendak Rasulullah, melainkan kehendak Allah. Rosul tidak adakan sanggup tanpa diperjalankan Allah.

Oleh karena itu lanjut Agus Mustofa(2006:15), Allah lantas mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi menjelajah ‘ruang’ dan ‘waktu’ didalam alam semesta ciptaan Allah. Mengapa Jibril? Sebab Jibril merupakan makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata.

Pembuktian menurut ilmu Fisika Lanjut Mudhary (1996;28), bahwa eter menjadi zat pembawa sekaligus pelantara daya elektromagnetik. Eter adalah udara yang ringan sekali, lebih ringan dari udara yang dihirup oleh manusia: O2. Dalam bahasa Arab disebut dengan “Itsir”. Jika eter bergetar, niscaya membutuhkan pula zat pembawa yang lebih halus lagi dari eter itu sendiri, agar getaran eter itu bisa tersebar ke mana-mana.

Sedangkan menurut Ilmu Metafisika, Rasul naik ke ruang angkasa melakukan perjalanan Mi’rajnya tentu membutuhkan zat pembawa yang lebih halus dari jiwa atau rohaninya. Oleh karena itu, makhluk hidup yang memiliki dua jasad: jasmani dan rohani, tentu diperlukan zat pembawa yang lebih halus dari rohani itu sendiri dan mampu mengangkat jasmani Rasul sekaligus. Dan ternyata makhluk yang sangat halus itu bernama Jibril.

Selain Jibril, perjalanan super istimewa itu disertai juga oleh kendaraan spesial yang didesain Allah dengan sangat spesial bernama Buraq. Ia adalah makhluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malaikat yang dijadikan tunggangan selama perjalanan tersebut. Buraq berasal dari kata Barqum yang berarti kilat. Maka, ketika menunggang Buraq itu mereka bertiga melesat dengan melebihi kecepatan cahaya sekitar 300.000 kilometer per detik (Mustofa, 2006:15).

Jika kecepatan Buraq diambil serendah-rendahnya setara dengan perbandingan kecepatan elektris saja: 300.000 kilometer per detik, maka jarak anatara Masjidil Haram di Mekkah dengan Masjidil Aqsha di Palestina yang berjarak 1.500 kilometer, hanya memakan waktu 1/200 detik. Padahal, Buraq adalah makhluk hidup yang kecepatannya pun bisa melebihi kecepatan elektris tadi. Sementara kecepatan cahaya adalah kecepatan paling tinggi yang telah dihasilkan Fisika Modern, berdasarkan keputusan kongres Internasional tentang Standar Ukuran yang digelar di Paris tahun 1983: bahwa kecepatan cahaya berada dalam ruang vakum sebesar 299.792.458 meter per detik dibulatkan sekira 300.000 kilometer per detik (Ahmad, 2006:168)

Tentu saja kecepatan setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan saja yang bisa memiliki kecepatan yang bisa melebihi kecepatan cahaya. Bahkan, saking ringannya, maka sesuatu itu harus tidak memiliki massa sama sekali. Yang bisa melakukan kecepatan itu hanya photon saja, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya. Bahkan, electron sekali pun yang bobotnya hampir nol sekalipun tidak dapat memiliki kecepatan setinggi itu.

Sedangkan manusia terkonstruksi dari satuan-satuan utama yang sangat kecil dinamakan sel. Jumlahnya sekitar 390 milyar. Sel tubuh ini tidak sama, baik bentuk, besar, maupun fungsinya. Sel-sel ini tidak terpisah satu sama lain, tetapi hidup dalam organisasi yang harmonis (Pasya, 2004:250). Sel-sel itu tersusun dari molekul-molekul. Baik yang sederhana maupun molekul yang kompleks. Mulai dari H2O, sampai pada molekul asam amino atau proteir kompleks lainnya. Dan jika dicermati, maka molekul itu juga tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil disebut atom. Dan atom ini pun tersusun dari partikel-partikel sub atomik seperti: proton, neutron, elektron, dan sebagainya.

Manusia memiliki bobot, jangankan untuk dipercepat dengan kecepatan setingkat kecepatan cahaya. Dengan percepatan beberapa kali gravitasi bumi (G) saja, sudah akan mengalami kendala serius, bahkan bisa meninggal dunia. Dalam ilustrasinya, Agus Mustofa (2006:17) memberi gambaran tentang seorang pilot yang melakukan manuver di angkasa. Ketika ia melakukan gerakan vertikal naik ke langit atau manuver ‘jatuh’ ke bumi misalnya, saat itu badannya akan mengalami tekanan alias beban yang sangat berat bergantung pada besarnya percepatan yang ia lakukan.

Jika pilot bermanuver ke langit dengan percepatan dua kali gravitasi bumi (2G), maka badannya akan mengalami tekanan dua kali lipat dari biasanya. Jika bobot pilot dalam kondisi normal 80 kg misalnya, maka pada saat melakukan manuver bobotnya akan menjadi 160 kg. Bahkan jika percepatannya lebih tinggi lagi, rasa ‘nyuut’ di otak akan semakin besar. Seperti orang yang jatuh bebas ke dalam sebuah sumur yang dalam. Bisa-bisa seseorang akan mengalami ‘hilang kesadaran’. Apalagi manuver pilot dengan kecepatan 5G, pilot yang tidak terlatih bisa-bisa mengalami balck out alias semaput atau pingsan di angkasa.

Nabi Muhammad adalah manusia biasa yang memiliki struktur sama dengan pilot dalam ilustrasi tadi ketika ia melakukan perjalanan Isra Mi’raj tersebut? Lalu bagaimana jasmani Muhammad mampu menembus lapisan langit dengan bantuan kecepatan cahaya ? Apakah Muhammad di-Isra-kan dan di-Mi’raj-kan dengan jasmani dan rohaninya sekaligus?

Salah satu ‘skenario rekonstruksi’ untuk mengatasi problem ini adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk pasangan elektron dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton. Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

Nah, proses pengubahan materi menjadi cahaya terjadi sesaat sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai, yakni ketika Rasul disucikan oleh Jibril di dekat sumur zam-zam. Bisa dikatakan jika proses ini adalah proses operasi hati Muhammad dengan air zam-zam. Jibril melakukan manipulasi terhadap sistem energi menjadi badan cahaya. Dengan kesiapan ini, Muhammad siap untuk dibawa melalui kawalan Jibril dengan mengendarai Buraq menembus batas langit hingga akhirnya berjumpa dengan Sang Pemilik Cahaya Abadi

Catatan ketiga, terdapat dalam kata ‘abdihi, Hamba-Nya. Hal ini berarti bahwa tidak semua orang mampu melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Perjalanan fantastis yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya. Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai insan kamil.

Catatan keempat, dalam kata laila, malam hari. Perjalanan spesial ini dilakukan pada malam hari dan bukan siang hari. Kenapa? Inilah dia bukti kebesaran Tuhan Sang Maha Gagah itu. Ia mengendalikan perjalanana Isra Mi’raj dengan apik dan sangat canggih. Apalagi alasan logis mengenai hal itu, bahwa pada siang hari radiasi sinar matahari demikian kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan Nabi Muhammad yang sebenarnya memang bukan badan cahaya. Badan nabi yang sesungguhnya tentu saja adalah materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu bersifat sementara saja, sesuai kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama Jibril. Dengan melakukannya pada malam hari, maka Allah telah menghindarkan Nabi dari interferensi gelombang yang bakal membahayakan badannya. Suasana malam memberikan kondisi yang baik buat perjalanan itu (Mustofa, 2006:25).

Sebagai gambaran sederhana, ketika di malam hari kita menyalakan radio, maka gelombang yang kita tangkap akan jernih dan lebih mudah dari siang hari. Sebab gelombang radio tersebut tidak mengalami gangguan terlalu besar yang saling bersinggungan dengan gelombang lainnya. Begitulah gambaran sederhananya,

Catatan kelima, terdapat dalam kata minal Masjidil haram ilal masjidil Aqsha, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Perjalanan ini dimulai dari mesjid ke mesjid, sebab mesjid adalah bangunan yang memiliki energi positif. Disanalah orang-orang berusaha untuk menyucikan diri, mendekat, bahkan merapat kepada Tuhannya. Masing-masing mesjid tersebut ibarat tabung energi positif bagi perjalanan Nabi.

Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dijadikan sebagai terminal pemberangkatan dan kedatangan. Hal ini mirip dengan tabung transmitter dan recieveri, yang dipergunakan dalam proses perubahan badan Nabi Muhammad dari materi menjadi cahaya jauh lebih mudah. Apalagi proses itu melalui ‘operasi’ lewat pelantara Jibril yang memang makhluk cahaya. Maka semuanya berjalan sesuai kehendak Allah. Dia-lah yang berkehendak, sedang Jibril yang melaksanakannya (Mustofa, 2006:28).

Catatan keenam, yakni dalam kata baaraknaa haulahu, Kami berkahi sekelilingnya. Perjalanan ini adalah perjalanan yang tak lazim. Oleh karena itu Allah mempersiapkan semua fasilitas dengan keberkahan untuk menjaga kelancaran perjalanan sekali dalam sepanjang sejarah manusia.

Nah, disinilah pentingnya Allah menjaga lingkungan sekitar perjalanan Isra Mi’raj agar tidak terjadi hal-hal yang merusak. Sebab, jika badan Rasul tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan perjalanan berkecepatan tinggi itu, maka badannya bisa terurai menjadi partikel-partikel kecil sub atomik, tidak beraturan lagi. Untuk itulah, keberkahan itu selalu ada; di setiap tempat di setiap keadaan, bahkan tak mengenal tempat, waktu, dan keadaan sekalipun.

Catatan ketujuh, terdapat dalam kata linuriyahu min ayaayaatina, tanda-tanda kebesaran Allah. Tepat sekali Isra Mi’raj sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang Maha Hebat. Dalam perjalanan itu Rasul menyaksikan pemandangan yang tidak pernah beliau saksikan sebelumnya. Terutama ketika melintasi dimensi-dimensi langit yang lebih tinggi pada saat Mi’raj ke langit ke tujuh. Tanda kebesaran dan keagungan Allah ini terhampar di jagat raya. Dan dengan tanda-tanda itu, seseorang mukmin bisa melakukan ‘dzikir sekaligus pikir’ sehingga menghasilkan kedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan kata kunci yang ke delapan adalah innahu huwas samii’ul bashir, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Ini adalah proses penegasan informasi kalimat sebelumnya. Dengan adanya kalimat ini, Alalh memberikan jaminan kepada kita bahwa apa yang telah Dia ceritakan dalam ayat ini adalah benar adanya. Kenapa? Karena berita ini datang dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka tak perlu ada keraguan tentang kisah fenomenal ini (Mustofa, 2006:41).

August 7, 2010

One Night Stand

Filed under: psikhologi — samiranshamir @ 1:16 am

One Night Stand

(Kesenangan Seks Tanpa Keterikatan)

I like one night stand! No face, no name, no number!

Petikan komentar ini terambil dari tulisan menyoal “One Night Stand” (ONS). Istilah One Night Standsendiri bukan dimaksud gaya bercinta dengan berdiri semalaman. Tepatnya, One night stand adalah petualangan seks semalam bersama orang yang baru dikenal dan berakhir di ranjang. Petualangan itu digambarkan penuh dengan passion, terselip ke-sembrono-an juga keberanian karena pelakunya bersedia berbagi tubuh dan nikmat bersama seseorang, tanpa perlu kenal wajah, tanpa perlu tahu nama bahkan identitasnya. One Night Stand, diartikan juga sebagai casual sex yang berarti bercinta tanpa komitmen, dan juga telah mengalami pergeseran istilah, yaitu sex buddy atau mitra seks. Sebuah aktivitas seks yang bisa dilakukan kapan saja dan dengan siapa saja, berprinsip pada “have fun, no more! Without love, comitment and married” Sesuatu yang dianggap ‘tabu’ dan dosa itu, di budaya Indonesia yang masih ‘timur’ ini sepertinya kini makin bisa dimaklumi. Bagai terseret arus ‘Barat’, ONS pun menjalar di semua kalangan, sah-sah saja dilakukan, asal ‘suka sama suka’, ayo saja! Sebuah fenomena ‘petualangan seks semalam’ ini bahkan telah menjalar di kalangan wanita-wanita muda, sukses, mapan, pun para lajang dan sebagian wanita menikah. Jumlahnya yang kian hari semakin bertambah seperti sebuah penunjukan atas refleksi emansipasi yang nyaring diserukan di kalangan perempuan. Demi memperjuangkan kesetaraan hak dengan kaum pria, dalam hal kebebasan menikmati seks pun para wanita juga ingin mengambil peran. Namun dari sebuah penelitian yang pernah dilakukan, terkait kebebasan seks, pria ternyata masih lebih mahir melakukan One Night Stand ketimbang wanita. Mahir disini dalam artian, pria terbiasa melakukannya tanpa merasa takut, rileks dan tanpa beban. Meminjam istilah asingnya ‘no hard feeling’. Artinya tak ada perasaan apapun yang terlibat disana, “kita suka, kita nikmati yang tersaji malam ini, tentang cinta? maaf-maaf saja, aku tak punya”

Professor Anne Campbell dari Universitas Durham Inggris sempat melakukan penelitian terhadap 1.743 pelaku ONS, termasuk pria dan wanita. Anne menanyakan tentang perasaan mereka setelah menjalani One Night Stand, dan ternyata sebebas-bebasnya wanita menikmati seks, mereka justru didera perasaan bersalah dan menyesal setelah petualangan seks itu berakhir. Sedang berkebalikan dari wanita, 80% peserta pria yang disurvei malah merasakan hal positif. Itu karena kebanyakan pria merasa bangga menceritakan ‘petualangan seks semalam’ kepada teman-temannya, sedang wanita memilih untuk menyimpan rapat-rapat pengalaman one night stand-nya. Lalu jika wanita sakit ‘patah hati’, sebagai akibat ia terlalu melibatkan perasaannya saat pertemuan singkat di ranjang itu disudahi, lantas perlukah kita menyalahkan si wanita, “salah sendiri pakai perasaan..” Sebuah kewajaran saya pikir, jika dua insan saling bertemu di suatu malam, terlibat pembicaraan intim yang berakhir di ranjang, dan lantas si wanita mengharap lebih dari sekedar seks. Kompensasi atas passion yang deras mengalir dalam tubuhnya terhadap si pria adalah kata cinta atau sayang yang terucap. Ini seperti pembenaran atas sebuah ungkapan lama “pria mencinta untuk mendapatkan seks, sementara wanita memberikan seks untuk mendapatkan cinta” Sayangnya, dari seribu ‘petualangan seks semalam’ hanya segelintir pasangan ONS yang bersedia bertemu kembali dan terlibat cinta sejati. Seperti yang diungkap Anne dalam penelitiannya, bahwa perbedaan yang mendasar antara pria dan wanita yang menjalani ‘petualangan seks semalam’ adalah bahwa pria hanya menyukai hubungan jangka pendek dengan berbeda-beda pasangan. Sementara wanita, lebih mementingkan kualitas bercinta dari sekedar kuantitasnya saja. Namun benar, jika wanita butuh usaha keras untuk menerima kenyataan atas ‘petualangan seks semalam’ yang berujung patah hati. Alih-alih ingin membuat si pria sadar dan bersedia melihat bahwa cinta itu telah hadir, menelusup  tanpa permisi di bilik hati sang wanita, ada kesediaan mereka, para wanita itu untuk bersedia mengulang kembali ‘petualangan seks semalam’. Menyedihkan memang, namun inilah suguhan faktanya. Bahwa ternyata seks tak selalu bisa mempengaruhi perasaan pria untuk berubah dan lalu mencinta.

Harapan sebuah petualangan seks semalam yang unforgetable, kenyataannya pun bisa juga jadi fatal. Gairah yang memburu dan melesak keluar sanggup mematikan perasaan, juga logika, hingga karena bujuk dan rayu “ngga perlu pengaman, lebih enak, kok” kenikmatan sesaat itu tak lagi jadi indah dan terkenang. Ya, kondom sebagai pencegah dan pengaman atas seks bebas, yang lupa atau sengaja tidak digunakan bisa jadi memperburuk masa depan para pelakon ONS. Kehamilan di luar nikah atau penyakit kelamin bersiap menjadi ancaman serius sebuah kesenangan tanpa keterikatan.

sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2010/08/04/952/One-Night-Stand-Kesenangan-Seks-Tanpa-Keterikatan

Older Posts »